Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur

Lonjakan kasus HIV/AIDS di NTT tidak bisa dibaca secara hitam-putih hanya sebagai peningkatan penularan semata. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Sem Pandie 

Namun faktanya, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTT justru mengeluhkan keterbatasan anggaran yang ekstrem.

Situasi ini mencerminkan dua kemungkinan: entah para pengambil kebijakan tidak mempercayai validitas data yang ada, atau HIV/AIDS masih dianggap sebagai prioritas kesekian di bawah isu kesehatan lain. 

Paradoks antara tingginya angka dan rendahnya perhatian fiskal adalah potret buram tata kelola kesehatan di provinsi kepulauan ini. 

Oleh karena itu, kritik terhadap data dan anggaran bukanlah upaya mengecilkan masalah, melainkan upaya mendorong akuntabilitas agar kebijakan yang diambil tepat sasaran dan tidak sia-sia.

Poin Kedua: Koreksi Teologis dan Peran Strategis GMIT

Di luar urusan teknis data dan anggaran, persoalan HIV/AIDS di NTT memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam. 

Sebagai provinsi dengan tingkat religiusitas tinggi, cara pandang warga NTT terhadap ODHA kerap diwarnai stigma yang dibungkus dalih teologis. 

Banyak yang masih menganggap HIV/AIDS sebagai kutukan atau hukuman Tuhan atas dosa. Pandangan ini adalah kesesatan teologis yang berbahaya. 

Sebagaimana ditegaskan oleh mendiang Pdt. Dr. Eka Darmaputera, Yesus Kristus secara tegas menolak hubungan sebab-akibat langsung antara dosa dan penderitaan fisik. 

Justru di dalam penderitaan, kasih Allah seharusnya dinyatakan melalui penerimaan tanpa syarat dan perawatan martabat manusia.

Dalam konteks inilah GMIT memikul tanggung jawab pastoral yang tidak bisa ditawar. 

Sebagai gereja yang jemaatnya tersebar hingga ke kampung-kampung dan pulau-pulau terpencil, GMIT memiliki infrastruktur sosial yang dapat menolong pemerintah dalam penanganan HIV/AIDS.

Untuk itu, GMIT harus bergerak di tiga lini strategis. Pertama, melalui integrasi dalam ibadah Minggu. 

Para pendeta dan majelis jemaat perlu secara sadar dan berani memasukkan isu HIV/AIDS ke dalam liturgi.

Ini bisa diwujudkan dalam bentuk doa syafaat khusus untuk ODHA, khotbah yang membongkar stigma, atau bahkan menetapkan Minggu khusus Peduli HIV/AIDS sebagai bagian dari kalender gerejawi.

Mimbar gereja tidak boleh lagi steril dari realitas sosial yang dihadapi jemaatnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved