Opini
Opini: Kemenangan yang Melangit, Syukur yang Membumi- Rekonstruksi Makna Hari Raya
Kegembiraan memang dianjurkan, namun ada risiko besar yang mengintai: kehilangan substansi di balik keriuhan.
Oleh: H. Muhammad G. Arifoeddin, S.Pd, M.M
Ketua Umum MUI Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Hari Raya Idulfitri sering kali disalahpahami dalam nalar publik sebagai sebuah "garis finis" dari perlombaan spiritual panjang selama Ramadan.
Kita cenderung merasa telah "lulus," lalu merayakannya dengan sebuah ledakan emosional dan konsumerisme yang terkadang melampaui batas kewajaran.
Kegembiraan memang dianjurkan, namun ada risiko besar yang mengintai: kehilangan substansi di balik keriuhan.
Kita terjebak dalam jebakan visual dan angka. Kita sibuk menghitung berapa jenis kue kering di meja, membandingkan kemewahan pakaian, hingga mengukur kesuksesan hari raya dari banyaknya tamu yang datang.
Baca juga: Edistasius Endi Apresiasi Perayaan Idulfitri 2026 di Manggarai Barat
Padahal, esensi Idulfitri bukanlah tentang kuantitas fisik yang tersaji, melainkan kualitas rasa syukur yang terpatri di relung hati.
Sebagaimana firman Allah SWT: “...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa takbir yang kita kumandangkan adalah untuk mengagungkan Sang Pemilik Petunjuk, bukan untuk memamerkan atribut duniawi.
Idulfitri seharusnya menjadi titik start untuk membuktikan apakah madrasah Ramadan benar-benar mengubah karakter kita menjadi lebih peduli atau sekadar menunda nafsu sesaat.
Filosofi Hidangan dan Jejak Keringat yang Terlupakan
Di balik kelezatan rendang yang empuk, ketupat yang legit, dan opor yang gurih, terdapat rantai panjang perjuangan manusia yang jarang sekali kita tengok.
Sepiring makanan di hari raya adalah muara dari ribuan tetes keringat petani yang membungkuk di bawah terik matahari, menjaga bulir padi dari hama, dan berharap pada semesta.
Ketika kita menyisakan makanan dan membuangnya ke tempat sampah di hari Lebaran, kita sebenarnya sedang melakukan penghinaan terhadap proses panjang tersebut. Lebih jauh lagi, tindakan mubazir adalah bentuk "kebutaan" sosial.
Di saat kita kebingungan memilih hidangan, ada jutaan orang yang merayakan kemenangan dengan perut yang masih merintih lapar.
Menyadari jejak keringat ini adalah langkah awal untuk merayakan kemenangan dengan kerendahan hati yang tulus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Muhammad-G-Arifoeddin-04.jpg)