Jumat, 8 Mei 2026

Opini

Opini: Kemenangan yang Melangit, Syukur yang Membumi- Rekonstruksi Makna Hari Raya

Kegembiraan memang dianjurkan, namun ada risiko besar yang mengintai: kehilangan substansi di balik keriuhan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/MARIA VIANEY GUNU GOKOK/POS-KUPANG.COM
Muhammad G. Arifoeddin 

Pesan "Nikmati Secukupnya" bukan sekadar imbauan kesehatan, melainkan pernyataan iman yang mendalam. 

Keberkahan makanan tidak terletak pada kemewahannya, melainkan pada bagaimana makanan tersebut memberikan energi bagi jiwa untuk tetap taat.

Menghargai Butir Nasi sebagai Amanah: Setiap butir makanan adalah rezeki yang telah "tertulis" alamatnya. 

Mengambil hanya apa yang mampu dihabiskan menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang berdaulat atas nafsu kita sendiri—sebuah nilai inti dari puasa.

Peringatan atas Perilaku Boros: Allah SWT memberikan peringatan tajam tentang bahaya perilaku mubazir yang sering muncul saat Lebaran:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)

Menjadi "saudara setan" di hari kemenangan adalah tragedi spiritual. Syukur yang sejati tercermin dari cara kita memperlakukan nikmat di atas piring kita sendiri.

Berbagi sebagai Solusi Ketimpangan Sosial

Jika di rumah kita terdapat kelebihan hidangan, itu bukanlah isyarat untuk bersikap boros, melainkan "undangan" dari Tuhan untuk mempraktikkan ilmu berbagi. 

"Berbagi Lebih Baik" adalah mekanisme sosial yang diajarkan Islam untuk menyeimbangkan ketimpangan.

Menata makanan berlebih dengan rapi, membungkusnya dengan cinta, dan memberikannya kepada mereka yang membutuhkan adalah bentuk "pesta" yang sesungguhnya di mata Sang Pencipta. 

Hal ini mengubah potensi dosa (mubazir) menjadi pahala jariyah. Kita harus ingat bahwa dalam setiap kelebihan rezeki yang kita nikmati, ada hak orang lain yang dititipkan di sana. Allah SWT menjanjikan keberkahan bagi mereka yang mau berbagi:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir...” (QS. Al-Baqarah: 261)

Menjaga Api Spiritual Tetap Menyala

Sangat ironis ketika masjid-masjid yang selama tiga puluh hari penuh sesak, tiba-tiba menjadi sunyi tepat saat Idulfitri tiba. Idulfitri sering kali menjadi titik perpisahan prematur bagi banyak orang dengan rumah Allah. 

Padahal, masjid adalah markas besar kemenangan kita. Gema takbir yang merdu seharusnya menarik kita lebih dekat, bukan membuat kita terlena dalam reuni keluarga yang melupakan waktu shalat.

Kesetiaan kita diuji saat Ramadan usai. Jika kita mampu berdiri berjam-jam untuk Tarawih, sangatlah memilukan jika di hari kemenangan kita justru abai terhadap shalat lima waktu hanya karena alasan menjamu tamu. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved