Opini
Opini: Larantuka dan Damai yang Rapuh
Keterlibatan pemuda dalam pengambilan keputusan akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitasnya.
Konflik, dalam situasi ini, menjadi pelampiasan sekaligus cara memperoleh pengakuan.
Sementara itu, dari sisi politik, lemahnya kehadiran institusi memperparah situasi.
Ahli resolusi konflik Johan Galtung membedakan antara kekerasan langsung dan kekerasan struktural.
Bentrokan adalah kekerasan langsung, tetapi sering dipicu oleh ketidakadilan, marginalisasi, atau pembiaran.
Ketika pemuda merasa tidak didengar dan tidak dilibatkan, konflik menjadi cara untuk menunjukkan eksistensi.
Lalu, apa jalan keluarnya?
Pertama, membangun ruang dialog yang berkelanjutan. Mengikuti gagasan John Paul Lederach, konflik tidak cukup “diselesaikan,” tetapi harus ditransformasi.
Pemuda dari kedua kelurahan perlu dipertemukan dalam kegiatan bersama—olahraga, seni, atau forum diskusi—untuk membangun kepercayaan baru.
Kedua, merevitalisasi nilai budaya lokal secara inklusif. Budaya Lamaholot memiliki kekayaan nilai persaudaraan yang bisa menjadi kekuatan perdamaian.
Tokoh adat dan agama perlu menafsir ulang identitas: dari “kami versus mereka” menjadi “kita.” Simbol adat harus menjadi jembatan, bukan sekadar seremoni.
Ketiga, memperkuat pemberdayaan ekonomi pemuda. Pelatihan keterampilan, kewirausahaan, dan akses kerja harus menjadi prioritas. Pemuda yang memiliki harapan dan peluang nyata cenderung menjauh dari konflik.
Investasi pada mereka adalah investasi bagi stabilitas sosial. Keempat, menghadirkan politik yang lebih inklusif. Pemerintah tidak boleh hanya hadir saat konflik meledak, tetapi juga dalam pencegahan.
Keterlibatan pemuda dalam pengambilan keputusan akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitasnya.
Pada akhirnya, konflik di Larantuka adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa perdamaian tidak cukup dibangun lewat simbol, tetapi harus menyentuh akar persoalan.
Rekonsiliasi adat penting, tetapi tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Ia harus diterjemahkan dalam kerja nyata—sosial, budaya, ekonomi, dan politik.
Jika tidak, kita hanya akan terus menyaksikan satu siklus yang sama: damai yang sebentar, konflik yang berulang. Dan di tengah itu, generasi muda terus menjadi korban—sekaligus pelaku—dari masalah yang tak pernah benar-benar diselesaikan. (*)
Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/robert-bala_02.jpg)