Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Laut yang Kita Doakan, Alam yang Kita Habiskan

Data tentang kondisi terumbu karang di perairan Sabu Raijua memperlihatkan kenyataan yang tidak bisa diabaikan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Catatan dari Pesisir Sabu Raijua, Bagian dari Seri “9 Luka NTT: Luka Ekologis

Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Sabu Timur
e-Mail. johnmhwaduneru@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Di pesisir Sabu Raijua, pagi selalu datang dengan cara yang hampir tidak berubah. 

Perahu kecil bergerak perlahan meninggalkan pantai, jaring ditebar dengan harapan yang sama seperti kemarin dan  laut terbentang luas seolah tidak pernah menyimpan kegelisahan apa pun. 

Bagi banyak orang, laut bukan sekadar bentangan air, melainkan ruang hidup yang memberi makan, menopang keluarga dan  menjaga keberlanjutan hari esok. 

Namun di balik ketenangan yang tampak itu, ada sesuatu yang pelan pelan bergeser, sesuatu yang tidak langsung terlihat oleh mata, tetapi mulai terasa dalam hasil tangkapan yang tidak lagi pasti dan dalam perubahan kecil yang terus berulang.

Data tentang kondisi terumbu karang di perairan Sabu Raijua memperlihatkan kenyataan yang tidak bisa diabaikan. 

Baca juga: Opini: Adven dan Pertobatan Ekologis

Tutupan karang hidup berada pada kisaran 16 persen hingga 58,72 persen dengan rata rata sekitar 35,90 persen, sebuah kondisi yang menempatkan ekosistem ini dalam rentang yang belum runtuh tetapi juga jauh dari sehat (Yuniar et al., 2023). 

Komposisi dasar laut masih didominasi oleh karang, disusul batuan dan lamun, namun kualitasnya di sejumlah wilayah mulai menurun secara perlahan (Yayasan Konservasi Alam Nusantara, 2023). 

Pada saat yang sama, lamun yang justru berfungsi menopang kehidupan laut sering dipersepsikan sebagai pengganggu dalam aktivitas budidaya rumput laut, sehingga keberadaannya tidak selalu dihargai sebagaimana mestinya (YKAN, 2023). 

Sementara itu, budidaya rumput laut yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir mulai menghadapi tekanan akibat perubahan suhu laut, melemahnya arus dan  meningkatnya penyakit, yang semuanya menandakan bahwa keseimbangan ekologis sedang terganggu. 

Di daratan, abrasi terus mengikis garis pantai dan  dalam beberapa kasus diperparah oleh aktivitas penambangan pasir yang masih berlangsung (SGP Indonesia, 2025).

Semua perubahan ini tidak datang sebagai peristiwa besar yang mengejutkan, melainkan sebagai rangkaian perubahan kecil yang terjadi terus menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. 

Laut masih memberi, tetapi tidak lagi dengan kelapangan yang sama seperti sebelumnya dan  justru karena ia belum benar benar berhenti memberi, kita sering kali tidak menyadari bahwa ia sedang menanggung beban yang semakin berat. 

Dari titik ini, pertanyaan tidak lagi cukup diarahkan pada apa yang terjadi pada laut, tetapi harus mulai diarahkan pada bagaimana manusia membaca dan merespons perubahan itu.

Cara Kita Melihat Laut

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved