Breaking News

Opini

Opini: Adven dan Pertobatan Ekologis

Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan dan memanfaatkan alam dengan hemat, bijaksana, efisien, dan penuh kasih? 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ALBERTUS MUDA
Albertus Muda 

Oleh: Albertus Muda
Guru SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lembata, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Masa Adven adalah masa penantian tetapi sekaligus masa pertobatan. 

Adven tidak hanya mengajak kita menyiapkan hati untuk menyambut kedatangan Tuhan, melainkan juga membuka mata terhadap jeritan bumi, rumah bersama yang terus terluka oleh keserakahan dan ketidakadilan manusia. 

Karena itu, Adven dewasa ini menjadi panggilan mendesak untuk bertobat dari perilaku yang merusak bumi, menaruh harapan pada pemulihan seluruh ciptaan, bertindak tegas menjaga kelestarian alam, serta memandang bumi sebagai ruang kehadiran Allah.

Baca juga: Berpestasi Beri Kontribusi PAD, PT Jamkrida NTT Terima Pos Kupang Award 2025

Sebagai umat beragama sekaligus warga negara, kita sesungguhnya berutang budi kepada alam, rahim yang menumbuhkan kehidupan dan kesejahteraan. 

Kita sering lupa bahwa keberlangsungan hidup manusia bertumpu pada udara yang dihirup setiap hari, pada tumbuh-tumbuhan, bunga-bunga, satwa, dan seluruh unsur alam yang dengan setia menyediakan diri sebagai sumber yang memberi daya hidup.

Pertanyaannya, sudahkah kita menggunakan dan memanfaatkan alam dengan hemat, bijaksana, efisien, dan penuh kasih? 

Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ (2015) mengingatkan bahwa alam semesta adalah saudari sekaligus ibu bagi umat manusia. 

Namun kini, ibu yang lembut itu menjerit, terluka oleh kerakusan manusia yang menjarah dan merusaknya tanpa ampun.

Kenyataan itu terpapar dengan gamblang di hadapan kita dimana kayu-kayu gelondongan yang dihanyutkan banjir bandang akibat pembalakan liar, hilangnya daerah resapan air, sampah yang dibuang sembarangan, pembabatan hutan mangrove, kebakaran hutan yang memicu kabut asap, hingga rusaknya terumbu karang akibat praktik penangkapan ikan dengan bom. 

Semua ini merupakan potret buram relasi manusia dengan alam.
Senada dengan Paus, Abdurrahman Wahid (2020) juga menegaskan bahwa bumi tengah berada dalam krisis multidimensi yang serius. 

Polusi, kerusakan ekologis, dan degradasi lingkungan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. 

Perusakan dan pencemaran terus berlangsung, sementara kepedulian masyarakat masih jauh dari memadai. 

Predikat manusia sebagai citra dan wakil Allah kerap disalahpahami, sehingga manusia merasa berhak menguasai alam dengan cara-cara egoistik dan manipulatif.

Pertobatan Ekologis

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved