Opini
Opini: Dusun Flobamora dan Jalan Menemukan NTT
Dusun Flobamora sudah dan sedang melewati lorong-lorong sunyi, sambil melawat dan merawat dusun-dusun kecil Nusa Flobamora.
Dusun Flombaro dalam kahasanah sastra di NTT diharapkan terus berlangkah seiring perubahan namun tetap teguh berdiri di atas pijakan buminya sendiri.
Cerita Sastra NTT adalah tentang kembali mencari dan menemukan diri dalam lumbung-lumbung kehidupan kearifan lokal.
Menelusur jejak -jejak kearifan lokal dan budaya. Menemukan relevansi dan menghidupinya dalam keselarasan hidup pada tatanan sosial.
Hadirnya sastra dalam Bingkai Komunitas Dusun Flobamora adalah terus membingkai kisah-kisah humanis; Tentang perjuangan, keteguhan dan kegigihan, harapan dan kecemasan dari sudut-sudut kota maupun lorong-lorong kehidupan di desa-desa yang ada di Flombara.
Karya-karya sastra adalah tentang indahnya hidup berdampingan dengan damai, toleransi, gotong royong di tengah ancaman induvidualisme.
Di tengah hedonisme dan kenikmatan duniawi sajian-sajian sastra adalah tentang kesadaran akan keserderhaan yang terpantul dari jejelan produk-produk lokal seperti jagung titi yang lezat, buah kenari yang gurih, ubi, marungga dan sambal lu’at yang nikmat.
Sastra di NTT adalah tentang nukilan kisah anak-anak sekolah di pedalaman yang berjalan berpuluh kilometer, bertaruh nyawa melewati banjir karena sekolah yang masih jarang ditemui.
Kegigihan seorang petani, nelayan, pemulung untuk menyekolahkan anak hingga meraih gelar sarjana. Kisah-kisah ini bagaikan mutiara-mutiara kehidupan yang tercecer.
Di sinilah tugas sastra menemukan kembali habitat dan menjadikannya karya sastra yang berkilau bagi sesama.
Nusa Tenggara Timur dan deretan pulau-pulaunya, penuh dengan hamparaan keindahan dan keunikan bukan saja alam namun terpancar dari semarak budaya dan tradisi.
Semoga dengan ulang tahun ke-15 Komuntas Dusun Flobamora tanggal 19 Februari lalu, menjadi ajang dan tonggak untuk terus mencari, menemukan dan menyajikan kisah-kisah dari NTT dalam karya-karya sastra yang bermakna
Perjalanan 15 Tahun Komunitas Sastra Dusun Flomabora, boleh dibilang, berumur panjang bukan lagi seumur jagung. Bukankah demikian? Kita bisa menyaksikan sendiri saat ini.
Di tengah gempuran modernisasi dengan berbagai plus-minusnya, komunitas ini masih tetap bertahan dan eksis.
Di tengah ekses negatif disrupsi, dimana dari anak kecil sampai kakek nenek lebih doyan scrool HP.
Zaman dimana tontonan yang hanya mengejar viral namun nirmakna serasa lebih meriah pada ponsel di tangan. Buku dan literasi sastra menjadi sesuatu yang cenderung asing dalam genggaman peradaban modern ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Longginus-Ulan-01.jpg)