Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Puasa Ramadhan dan Toleransi Lintas Batas

Apa yang terjadi di IFTK Ledalero menunjukkan bahwa identitas agama tidak harus menjadi dinding pembatas.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HENDRIKUS MAKU
Hendrikus Maku, SVD 

Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Pengajar Islamologi IFTK Ledalero, Alumnus SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

POS-KUPANG.COM - “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al‑Baqarah [2]: 183). 

Ayat ini mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah perjalanan batin menuju ketakwaan—sebuah kualitas yang memupuk empati, penguasaan diri, dan penghargaan terhadap sesama. 

Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, ketakwaan itu menemukan wujudnya melalui sikap saling menjaga dan saling memahami, terutama ketika kaum Muslim sedang menunaikan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan. 

Dari sinilah toleransi lintas batas mendapatkan pijakannya: bukan sekadar konsep, tetapi praktik keseharian dalam hidup bersama.

Baca juga: Mutiara Ramadhan - Kekuatan Doa Ramadan

Ramadhan senantiasa hadir sebagai ruang perjumpaan: ruang di mana manusia bertemu dengan dirinya, dengan sesamanya, dan dengan jejak-jejak ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. 

Puasa di Bulan Suci itu bukan sekadar ritus spiritual yang mengubah ritme, melainkan juga momentum sosial yang menganyam kembali jalinan kemanusiaan di tengah keberagaman agama dan budaya. 

Di Indonesia—negara bangsa, tempat perbedaan tumbuh berdampingan—Ramadhan bertransformasi menjadi laboratorium sosial yang terus menguji sekaligus memelihara makna dari toleransi.

Keindahan Ramadhan terwujud dan terlihat bila ibadah puasa dipraktikkan dengan basis etika yang kokoh. Nabi Muhammad SAW mengingatkan, “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan maksiat, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari). 

Pesan ini menegaskan bahwa nilai Ramadhan tidak terletak pada laparnya tubuh, tetapi pada jujurnya hati dan bersihnya perilaku. 

Maka, dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, etika inilah yang menjadikan puasa berdaya: ia menumbuhkan kelembutan, menahan ego, dan membuka ruang bagi saling menghormati (mutual respect).

Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya melatih kesalehan personal (al ṣalāḥ al fardī), tetapi juga merawat kesalehan sosial (al ṣalāḥ al ijtimāʿī). 

Puasa Ramadhan membentuk manusia yang bukan hanya tekun beribadah, tetapi juga peka terhadap dunia sekitar—manusia yang mampu menjadikan etika sebagai jembatan antara iman dan toleransi. 

Sebab, ibadah tidak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan (ʿibādah, ʿubūdiyyah, taqarrub ilā Allāh), tetapi juga hubungan antar-manusia (muʿāmalah, ukhuwwah insāniyyah), antar-keyakinan (taʿāyush), dan antar-identitas (taʿāruf atau taʿaddudiyyah). Di sana, toleransi lintas batas menemukan relevansinya.

Puasa Ramadhan merupakan sebuah proses mengolah rasa, melatih kepekaan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain—sebuah jalan menuju empati. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved