Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Bae Sonde Bae NTT Lebe Bae -Potensi Dicatat, Masa Depan Dirancang

Dalam konteks inilah pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi sangat penting dan strategis. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARLYN JEANNE CHRISTINE
Marlyn Jeanne Christine 

Oleh: Marlyn Jeanne Christine 
Statistisi Ahli Madya, Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - “Bae sonde bae, NTT lebe bae.” Ungkapan yang akrab di telinga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) ini bukan sekadar ekspresi emosional semata, melainkan refleksi dari ketangguhan, optimisme, dan tekad untuk terus bergerak maju ke arah yang lebih baik. 

Dalam konteks pembangunan, ungkapan ini mencerminkan semangat kolektif masyarakat untuk menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan yang ada.

Dalam hal perekonomian, NTT memiliki karakteristik wilayah kepulauan dengan kondisi geografis yang tersebar, keterbatasan infrastruktur, serta tantangan iklim yang tidak selalu bersahabat. 

Kondisi tersebut seringkali menjadi hambatan dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. 

Baca juga: Opini: Sensus Ekonomi 2026 untuk Apa?

Namun demikian, berbagai indikator menunjukkan bahwa perekonomian NTT terus bergerak maju dan memperlihatkan potensi perbaikan dari waktu ke waktu.

Struktur ekonomi NTT dalam satu dekade terakhir menunjukkan dinamika yang cukup menarik. 

Sektor tersier yang mencakup perdagangan dan jasa semakin menunjukkan dominasinya di tengah kemajuan teknologi, perkembangan sektor pariwisata, serta meningkatnya mobilitas masyarakat. 

Pada tahun 2025, kontribusi sektor tersier mencapai sekitar 59,26 persen terhadap total nilai tambah seluruh aktivitas ekonomi atau yang dikenal sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). 

Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 57,52 persen.

Sementara itu, kontribusi sektor primer yang meliputi pertanian dan pertambangan serta sektor sekunder yang mencakup industri pengolahan, pengadaan listrik dan air, serta konstruksi cenderung mengalami penurunan dalam struktur ekonomi. 

Pergeseran ini menunjukkan bahwa perekonomian NTT perlahan bergerak menuju dominasi aktivitas perdagangan dan jasa, meskipun sektor primer tetap memiliki peran penting sebagai fondasi ekonomi, terutama bagi masyarakat di wilayah pedesaan.

Jika dilihat lebih rinci dari struktur PDRB sisi produksi yang terdiri dari 17 kategori lapangan usaha, kategori pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian NTT. 

Lapangan usaha ini mencakup berbagai subkategori seperti tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. 

Pada tahun 2025, kontribusi sektor pertanian mencapai sekitar 28,58 persen Terhadap total PDRB. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved