Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Pesona Demokrasi Blasteran

Reformasi membawa perubahan besar, seperti: pembatasan masa kepemimpinan presiden, pemilihan langsung, dan desentralisasi kekuasaan. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI AGUSTINUS S. SASMITA
Agustinus S. Sasmita 

Ketika demokrasi kehilangan konsistensi antara yang diidealkan dan praktiknya, maka orientasi pembangunan politik akan menjadi kabur. 

Hal ini jika dibiarkan akan menciptakan jurang harapan dan kenyataan yang semakin melebar dan pada akhirnya demokrasi hanya menjadi slogan kosong tanpa makna.

Pada akhirnya, secara substansial demokrasi memiliki tiga pilar yang menopang legitimasi sebuah pemerintahan, yaitu: partisipasi melalui mekanisme persetujuan rakyat, kompromi melalui proses negosiasi dan konsiliasi, serta umpan balik yang menjadi fondasi stabilitas politik jangka panjang. 

Namun realitasnya, ketiga pilar tersebut seolah rapu di hadapan praktik kekuasaan yang cenderung menutup diri. Demokrasi yang seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersuara, kini dibatasi. 

Kritik yang sejatinya menjadi napas demokrasi, kerap dibungkam dengan tuduhan penghinaan terhadap pemimpin atau bahkan cap sebagai antek asing. Demokrasi kehilangan spirit ketika masyarakat tidak lagi berani bermimpi, apalagi menyuarakan keresahannya.

Proyeksi demokrasi kita ke depan sangat tergantung pada keberanian mengakui kemunduran serta komitmen untuk memperbaikinya. 

Demokrasi yang sehat bukan sunyi dari kritik, melainkan kemampuan mengonversi kritik menjadi nilai dan energi untuk terus bertumbuh. 

Tanpa itu, demokrasi hanyalah cangkang kosong yang suatu saat akan pecah diterpa kekecewaan massa. (*)

Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved