Rabu, 6 Mei 2026

Opini

Opini: Iklim 

Ilmu iklim modern menyoroti ancaman pemanasan global. Salah satu tokoh pentingnya adalah James Hansen.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Iklim bukan hanya panas, hujan, atau angin harian. Iklim adalah pola cuaca rata-rata jangka panjang, biasanya 30 tahun. Ia mencakup suhu, curah hujan, kelembapan, angin, dan kejadian ekstrem. 

Iklim menggambarkan dinamika atmosfer dan ritme kehidupan manusia. Pengaruhnya terlihat pada kenyamanan hidup dan keberlanjutan ekosistem.

Produksi pangan bergantung pada pola curah hujan. Variasi suhu memengaruhi kesehatan masyarakat. Perencanaan kota menyesuaikan karakter iklim. 

Baca juga: Opini: Prapaskah, Kemanusiaan dan Ekologi Integral

Drainase dan tata ruang dirancang sesuai kondisi alam. Perhatian terhadap iklim meningkat karena perubahan iklim global.

Perubahan iklim adalah pergeseran jangka panjang sistem iklim. Faktor alami seperti vulkanik dan variasi orbit memengaruhi iklim. Kini manusia menjadi pemicu utama, lewat emisi gas rumah kaca. 

Indonesia memiliki keragaman iklim tropis yang kompleks. Pemahaman ilmiah dan klasifikasi iklim menjadi dasar kebijakan adaptif.

Teori Klasik Iklim

Pendekatan penting dalam ilmu iklim dikembangkan Wladimir Köppen. Kemudian disempurnakan oleh Rudolf Geiger. Sistem ini membagi iklim dunia berdasarkan suhu, curah hujan, dan vegetasi. 

Terdapat lima kelompok besar: tropis, kering, sedang, kontinental, dan kutub. Pembagian ini membantu memahami sebaran iklim di berbagai wilayah Bumi. 

Sebagian besar wilayah Indonesia memiliki iklim tropis. Namun, terdapat variasi di dalam tipe ini. Hutan hujan tropis dengan curah hujan tinggi ada di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. 

Jawa dan Nusa Tenggara dipengaruhi pola muson. Musim hujan dan kemarau jelas berbeda di wilayah tersebut. Keragaman ini menunjukkan kompleksitas iklim Indonesia. 

Keunggulan sistem Köppen–Geiger ada pada kesederhanaannya. Para ilmuwan menggunakan kode huruf seperti Af, Am, dan Aw. 

Kode ini memudahkan mengenali karakter iklim suatu wilayah. Sistem ini juga menunjukkan hubungan iklim dengan vegetasi. 

Klasifikasi ini tidak hanya bersifat meteorologis. Namun, juga memberi perspektif ekologis tentang iklim, lanskap, dan kehidupan. 

Kajian zonasi iklim global juga dikembangkan Charles F. Brooks dan Louis P. Howard. Mereka menekankan implikasi geografis dan pertanian dari distribusi iklim

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved