Opini
Opini: Nyepi, Stoikisme, dan Jalan Kebajikan
Dalam filsafat Hindu, gagasan itu dekat dengan dharma, yaitu prinsip yang menjaga keteraturan diri, masyarakat, dan semesta.
Namun dalam kerangka filsafat Hindu, gagasan tersebut sesungguhnya telah lama dikenal melalui Tri Hita Karana, yakni harmoni antara manusia, sesama, dan alam.
Pembangunan yang berkelanjutan karenanya bukan hanya soal target teknokratis, tetapi juga soal dharma publik, sebuah etika yang menolak kerakusan dan menempatkan keseimbangan sebagai prinsip hidup bersama.
Di sinilah Nyepi bertemu dengan gagasan yang banyak digemari masyarakat modern seperti stoikisme.
Jika stoikisme mengajarkan kebajikan melalui pengendalian diri dan kemampuan membedakan apa yang dapat dikendalikan dari yang tidak, maka Nyepi membawa prinsip itu lebih jauh ke ranah sosial.
Penguasaan diri tidak hanya berguna bagi ketenangan pribadi, tetapi juga menentukan cara manusia memperlakukan sesama dan alam.
Karena itu, Nyepi memberi pesan yang sederhana namun mendasar bagi NTT:, yakni pembangunan yang bermartabat harus berangkat dari kebajikan.
Dalam bahasa Hindu, itu disebut dharma; dalam stoikisme, hidup menurut virtue; dalam bahasa pembangunan modern, itu berarti pertumbuhan yang tidak mengorbankan manusia dan alam. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-01.jpg)