Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Nyepi, Stoikisme, dan Jalan Kebajikan 

Dalam filsafat Hindu, gagasan itu dekat dengan dharma, yaitu prinsip yang menjaga keteraturan diri, masyarakat, dan semesta. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Dalam stoikisme, ini mirip dengan kebajikan batin, dimana fokus pada tindakan yang benar, bukan pada hasil yang sepenuhnya tidak bisa kita kuasai.

Bagi pembaca umum, pelajarannya sederhana. Hidup modern membuat orang mudah cemas karena terlalu banyak hal ingin dikendalikan sekaligus: citra, pengakuan, kekayaan, status, pujian, dan kemenangan sosial. 

Akibatnya, manusia menjadi reaktif, gampang marah, dan sulit merasa cukup. Nyepi maupun stoikisme sama-sama mengingatkan bahwa manusia yang tidak mampu menata dirinya akan mudah dikalahkan oleh dunia luar. 

Ketenangan bukan datang dari dunia yang ideal, tetapi dari karakter yang tertib.

Melawan Budaya Berlebihan

Masalah besar masyarakat hari ini adalah budaya ekses. Kita hidup dalam dorongan untuk selalu lebih; lebih cepat, lebih sibuk, lebih konsumtif, lebih terlihat berhasil. 

Dalam bahasa Hindu, ini adalah kegagalan menahan indria. Dalam bahasa stoik, ini adalah hidup yang dikuasai hal-hal eksternal. 

Keduanya sama-sama memperingatkan: manusia yang menggantungkan nilai dirinya pada hal-hal di luar kendali akan mudah rapuh.

Nyepi memberi koreksi yang tegas terhadap pola hidup semacam itu. Ia mengajarkan pembatasan, tetapi pembatasan yang membebaskan. Menahan diri bukan kehilangan, melainkan cara untuk memulihkan ukuran. 

Karena itu, Nyepi relevan untuk zaman ketika banyak orang tertarik pada minimalisme, mindfulness, dan stoikisme. Bedanya, Nyepi tidak berhenti pada terapi pribadi. 

Ia membawa pengendalian diri ke tingkat etika sosial dan kosmis, yakni hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam.

Di sinilah Tri Hita Karana menjadi sangat penting. Filsafat ini menegaskan bahwa kebahagiaan lahir dari harmoni tiga relasi: manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Ini bukan sekadar doktrin religius. 

Ia adalah kerangka etik yang sangat modern. Ketika dunia berbicara tentang keberlanjutan, sebenarnya Tri Hita Karana sudah lebih dulu berbicara tentang keseimbangan.

Kebajikan Publik bagi NTT

Bagi NTT, pesan Nyepi tidak berhenti pada refleksi spiritual, tetapi menyentuh arah pembangunan. Pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup jika kemiskinan masih 17,50 persen dan stunting mencapai 37 persen. 

Persoalannya bukan sekadar seberapa banyak proyek dibangun, melainkan apakah pembangunan benar-benar memperkuat martabat hidup warga, terutama dalam hal gizi, air bersih, kesehatan, dan perlindungan terhadap kerentanan ekologis.

Dalam bahasa pembangunan global, prinsip ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menekankan keterhubungan antara pengentasan kemiskinan, kesejahteraan manusia, dan perlindungan lingkungan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved