Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Membangun Kepedulian dari Sekolah

Ketika kepedulian anak didik dikembangkan di saat bersamaan karakter-karakter lain juga ditumbuhkan.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ADRIANUS NGONGO
Adrianus Ngongo 

Oleh: Adrianus Ngongo
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kisah berpulangnya seorang bocah SD (YBR) berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada menghentak kita untuk kembali mempertanyakan sejauhmana kepekaan kita akan nilai-nilai kemanusiaan  universal dalam praktik lokal. 

Peristiwa ini mencoreng wajah kemanusiaan kita yang menjauh dari hakikat dasarnya  sebagai homo socius (makhluk sosial), makhluk yang tak bisa hidup sendiri dan saling tergantung satu sama lain.

Kita memiliki begitu banyak institusi yang mestinya mampu memberikan perlindungan kepada setiap warga Negara untuk dapat bertahan hidup. 

Ada institusi negara mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan hingga RT/RW. Ada juga institusi agama mulai dari yang tertinggi hingga yang terkecil. 

Baca juga: Opini: Antara Jokowi dan KDM

Ada pula beragam lembaga sosial kekerabatan, budaya dan adat yang menaungi dan mengayomi setiap anggotanya untuk setidaknya mampu bertahan menghadapi tekanan hidup yang tidak mudah. 

Sayang, kelimpahan institusi pengayom tidak mampu melindungi segenap anggotanya. Selalu ada yang teralienasi dan tak tergapai layanan. 

Kelompok terpinggirkan yang luput dari perhatian. Kisah bocah kecil di Ngada hanyalah salah satu di antara sekian banyak kisah lain yang sama-sama mengayat hati manusiawi kita.  

Jerat Individualisme

Individualisme adalah suatu paham yang menganggap diri sendiri lebih penting daripada kepentingan orang lain (KBBI Online). 

John Locke menganjurkan penegakan hak dasar individu atas hidup, kebebasan dan kepemilikan. Sementara Adam Smith mendukung individualisme dalam bidang ekonomi. 

Pandangan ini kemudian dikembangkan pada berbagai segi kehidupan manusia oleh pemikir-pemikir lainnya seperti John Stuart Mill (Sosial dan politik) dan Herbert Spencer. 

Dalam pandangan mereka, individu dengan segala kepentingannya adalah faktor terpenting yang tidak boleh diabaikan oleh kepentingan umum sekalipun. 

Diri atau individu adalah penentu utama dalam membangun kemandirian, otonomi diri dan pencapaian tujuan pribadi. 

Dalam realitas kehidupan sehari-hari, individualisme mengambil rupa apatisme antar tetangga, kesibukan dengan gawai pribadi tanpa peduli pada teman/tetangga, ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan serta lemahnya sikap tenggang rasa. 

Manusia yang individualistis biasanya tidak mengenal tetangganya, rendah interaksi social, dan terlihat sangat mengutamakan kepentingan diri pribadi di atas kepentingan bersama. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved