Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Budaya Akademik dan Paradigma Perguruan Tinggi

Bentuk universitas moderen ini mengganti filsafat dengan ilmu, pengajaran dengan riset, generalis dengan spesialis.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI UMBU TAGELA
Umbu Tagela 

Oleh: Umbu Tagela
Pemerhati Pendidikan tinggal di Salatiga, Jawa Tengah.

POS-KUPANG.COM - Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia baru dikenal di awal abad ke 20 dengan adanya Rechts Hoge School, Genecskunn Hoge School dan Technische Hoge Shool di Jakarta dan di Bandung. 

Arti perguruan tinggi dalam fungsi yang sebenarnya baru mulai dicoba sekitar tahun 1960-an pada saat diperkenalkan doktrin Tridarma PT,  yakni  pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. 

Seiring dengan perjalanan waktu , PT mengalami transformasi seperti dilukiskan oleh Keer (1982) bahwa PT pada mulanya merupakan a community of master and students.

Kegiatannya dititikberatkan pada pengajaran filsafat moral dan humanisme. Model Yunani Kuno ini menurut Diskey (1987) merupakan warisan dari “The Academi of Plato and The Lyceum of Aritoteles.”

Dalam perkembangan selanjutnya oleh Keer dinamakan “modern university” menggunakan model risetnya Abraham Flexner. 

Baca juga: Opini - Mengenal Postur Anggaran Kita

Bentuk universitas moderen ini mengganti filsafat dengan ilmu, pengajaran dengan riset, generalis dengan spesialis.  

Menurut Flexner PT adalah “suatu institusi yang secara sadar mengabdi pada pengembangan pengetahuan, pemecahan masalah, aplikasi kritis terhadap prestasi dan pelatihan pada tingkat yang benar-benar tinggi”. 

Perkembangan ini banyak dipengaruhi oleh PT model Jerman yang berorientasi pada penciptaan pengetahuan baru dan pengembangan mahasiswa untuk lebih mampu menciptakan pengetahuan dari pada ide klasik.

Begitu pula ide Jerman “Lehrnfreiheit und Lernfreiheit” (kebebasan dalam mengajar dan kebebasan dalam belajar) mendorong tumbuhnya riset yang kreatif dan bermanfaat.

PT selanjutnya berkembang menjadi multiversitas (suatu institusi yang berisi berbagai masyarakat dan kegiatan). 

Institusi ini terdiri dari masyarakat mahasiswa, masyarakat humanis, masyarakat ilmuan, masyarakat profesional, masyarakat personal non akademik dan masyarakat administrator. 

Berbagai kegiatan seperti pengajaran, mengerjakan pengetahuan, meningkatkan metode riset yang canggih, memperluas kesadaran intelektual hingga pengabdian pada masyarakat merupakan bidang garapannya. 

Perkembangan ini dipacu oleh elective system seperti dirintis oleh Harvard College pada abad ke-19 yaitu semua disiplin ilmu diperlakukan sama dalam pengembangannya dan mahasiswa bebas memilih bidang studi yang diminatinya. 

Begitu pula jiwa dari land grant colleges di Amerika membawa perguruan tinggi lebih memperhatikan program-program pengabdian pada masyarakat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved