Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Ketika seseorang langsung mengonsumsi minuman tinggi gula sederhana dalam jumlah besar, tubuh mengalami lonjakan glukosa yang cepat. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PRIMA TRISNA AJI
Prima Trisna Aji 

Lonjakan gula darah bukan sekadar angka di laboratorium. Dalam jangka pendek, ia bisa menimbulkan rasa lelah ekstrem, mengantuk, gangguan konsentrasi, bahkan palpitasi jantung. 

Dalam jangka panjang, pola fluktuasi tajam ini berkontribusi pada risiko diabetes tipe 2 yang sudah mencapai puluhan juta warga Indonesia. 

Budaya takjil manis memang mengakar kuat. Secara tradisional, berbuka dengan yang manis dianjurkan karena cepat mengembalikan energi. 

Namun, yang sering terlupakan adalah prinsip moderasi. Nabi berbuka dengan kurma atau air dalam jumlah sederhana bukan pesta gula berlebihan. 

Di sinilah letak refleksi kesehatan Ramadan: apakah kita benar-benar memulihkan tubuh, atau justru mengujinya dengan beban metabolik yang berat?

Ada beberapa langkah sederhana namun penting untuk mencegah “balas dendam metabolik” saat berbuka.

Pertama, mulai dengan air putih dan satu atau dua butir kurma, bukan segelas besar minuman sirup tinggi gula. 

Kedua, beri jeda 10-15 menit sebelum makan besar agar tubuh menyesuaikan respons insulin secara bertahap. 

Ketiga, batasi minuman kemasan manis dan kolak dengan santan kental yang tinggi gula dan lemak jenuh. 

Keempat, prioritaskan makanan berserat dan protein agar pelepasan glukosa lebih stabil.

Bagi penderita diabetes atau prediabetes, pemantauan gula darah selama Ramadhan sangat penting. 

Konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum berpuasa bukan tanda kelemahan iman, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan.

Ramadhan sejatinya adalah latihan pengendalian diri. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mengendalikan nafsu konsumsi. 

Jika sepanjang hari kita mampu menahan diri, mengapa justru kehilangan kendali saat magrib?

Kesehatan publik tidak hanya dibentuk oleh kebijakan, tetapi juga oleh kebiasaan kolektif. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved