Sabtu, 18 April 2026

Opini

Opini: Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Ketika seseorang langsung mengonsumsi minuman tinggi gula sederhana dalam jumlah besar, tubuh mengalami lonjakan glukosa yang cepat. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PRIMA TRISNA AJI
Prima Trisna Aji 

Tren berburu takjil manis setiap sore, promosi minuman tinggi gula yang masif, serta anggapan bahwa “mumpung puasa” menjadi kombinasi yang berbahaya. 

Tanpa kesadaran bersama, Ramadan justru berpotensi meningkatkan risiko metabolik masyarakat. Puasa memberi kesempatan langka bagi tubuh untuk ‘reset’. 

Namun manfaat itu hanya akan optimal bila kita memperlakukan berbuka sebagai proses pemulihan, bukan pelampiasan.

Pertanyaannya sederhana: saat azan magrib berkumandang, apakah kita ingin memulihkan tubuh atau membebani pankreas?

Ramadhan merupakan momentum spiritual sekaligus biologis. Ia mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, antara energi dan kendali. 

Jika disiplin yang kita latih sepanjang hari runtuh dalam lima belas menit pertama berbuka, maka yang terjadi bukan transformasi kesehatan, melainkan ironi metabolik. 

Menahan lapar itu ibadah. Mengendalikan gula, itu kebijaksanaan. Dan kesehatan pada akhirnya adalah amanah yang tak kalah suci untuk dijaga. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved