Opini
Opini: Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Ketika seseorang langsung mengonsumsi minuman tinggi gula sederhana dalam jumlah besar, tubuh mengalami lonjakan glukosa yang cepat.
Tren berburu takjil manis setiap sore, promosi minuman tinggi gula yang masif, serta anggapan bahwa “mumpung puasa” menjadi kombinasi yang berbahaya.
Tanpa kesadaran bersama, Ramadan justru berpotensi meningkatkan risiko metabolik masyarakat. Puasa memberi kesempatan langka bagi tubuh untuk ‘reset’.
Namun manfaat itu hanya akan optimal bila kita memperlakukan berbuka sebagai proses pemulihan, bukan pelampiasan.
Pertanyaannya sederhana: saat azan magrib berkumandang, apakah kita ingin memulihkan tubuh atau membebani pankreas?
Ramadhan merupakan momentum spiritual sekaligus biologis. Ia mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, antara energi dan kendali.
Jika disiplin yang kita latih sepanjang hari runtuh dalam lima belas menit pertama berbuka, maka yang terjadi bukan transformasi kesehatan, melainkan ironi metabolik.
Menahan lapar itu ibadah. Mengendalikan gula, itu kebijaksanaan. Dan kesehatan pada akhirnya adalah amanah yang tak kalah suci untuk dijaga. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji2.jpg)