Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Perdamaian, Keadilan, dan Krisis Kebenaran di Era Digital

Perdamaian bukan hadiah spontan dari toleransi dangkal, tetapi buah dari relasi yang ditata oleh kebenaran dan keadilan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YUDEL NENO
RD. Yudel Neno 

Oleh: Romo Yudel Neno, Pr
Rohaniwan asal Keuskupan Atambua, Provinsi Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan konflik, melainkan sebuah konstruksi etis yang berdiri di atas fondasi keadilan. 

Ketika Walter M. Abbott, SJ menyebut perdamaian sebagai an enterprise of justice, ia hendak menegaskan bahwa perdamaian bukanlah perasaan sentimental, melainkan hasil dari struktur sosial yang adil. 

Perdamaian bukan hadiah spontan dari toleransi dangkal, tetapi buah dari relasi yang ditata oleh kebenaran dan keadilan. 

Baca juga: Opini: Pelangi di Pekan yang Sama

Di sini jelas bahwa keadilan adalah basis ontologis dan moral dari perdamaian. 

Tanpa keadilan, perdamaian hanyalah ilusi yang rapuh dan mudah runtuh oleh konflik tersembunyi. 

Maka setiap pembicaraan tentang perdamaian harus terlebih dahulu berangkat dari pertanyaan tentang keadilan.

Gagasan ini diperdalam oleh Dom Hélder Câmara, Uskup Agung dari Brasil, yang menegaskan bahwa ketidakadilan merupakan bentuk kekerasan yang paling mendasar. Pernyataan ini mengandung daya kritis yang kuat. 

Kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik; ia bisa tersembunyi dalam sistem ekonomi yang timpang, dalam kebijakan yang diskriminatif, atau dalam wacana publik yang memanipulasi fakta. 

Ketidakadilan menciptakan luka struktural yang melahirkan konflik laten. Dalam konteks ini, perdamaian sejati menuntut keberanian untuk membongkar akar-akar ketidakadilan tersebut. 

Perdamaian bukan kompromi dengan ketidakbenaran, tetapi koreksi terhadapnya.

Namun persoalan menjadi lebih kompleks ketika Gereja hidup di tengah amukan globalisasi informasi. 

Era digital melahirkan kelimpahan data tanpa kedalaman makna. Umat diperhadapkan pada relativisme ekstrem akibat perbandingan prematur yang terlalu luas dan serba instan. 

Setiap narasi tampil setara dalam ruang digital, tanpa hierarki kebenaran yang jelas. Akibatnya, tidak ada lagi landasan normatif yang tetap dan kokoh. Kebenaran menjadi sekadar opsi, bukan komitmen.

Dalam dunia media sosial, cerita-cerita kecil dikembangkan dengan pisau subjektivisme. Realitas dipotong sesuai preferensi personal, lalu dibagikan dengan sekali sentuhan jari. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved