Breaking News
Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Opini - Wartawan di Persimpangan Jalan?

Ia lahir dari proses verifikasi yang panjang, dari keberanian mempertanyakan narasi dominan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, Pejalan Sunyi Literasi NTT 

Sebagai pejalan kaki tangguh, wartawan enggan berada di zona nyaman dengan menunggu undangan jumpa pers. Ia “berjalan” dengan mata, telinga dan hati yang bebas. Tidak terpengaruh atau dipengaruhi oleh kuasa, “uang bensin” dan semacamnya.

Ia terus berjalan menangkap setiap fenomena, fakta dan data apa adanya. Menulis dengan tajam dan membiarkannya mengalir dalam diam hingga mengubah kebijakan yang tidak berpihak pada yang kecil dan papa. Di jalan ini, wartawan melangkah tegap dalam kompas etika dan praduga tak bersalah.

Kedua, tidak mengapa jika harus berperan ganda sebagai wartawan, pimpinan redaksi, melobi untuk mendapatkan iklan dan lain-lain. Dunia memang sedang tidak baik-baiknya.

Namun ada satu hal yang kita ikhlaskan adalah “zona nyaman” dan konsisten berjalan sendiri. Berani bertransformasi secara rasional dan profesional.

Menumbuhkan diri dalam satu satu cara adalah kita (wartawan) yang sering “tersudut” dan kadang tidak dianggap. Teruslah bertumbuh dalam iklim yang harus “diciptakan” bersama.

Memutuskan untuk melanjutkan pendidikan atau membentuk arisan wartawan untuk saling mendukung (menumbuhkan) dalam kegiatan produktif, adalah salah satu contoh. Dunia berubah dan kita sepantasnya ikut berubah di dalamnya.

Ketiga, tetaplah konsisten sebagai “anjing” cerdas, terlatih dan konsisten untuk menggonggong, mengawasi dan bila perlu “menggigit” apa dan siapapun yang melecehkan nilai kebenaran, keadilan dan kebaikan bersama.

Membangun persahabatan dan kerja sama dengan pemerintah misalnya, tidak berarti menggadaikan harga diri dan profesionalisme.

Tetap tajam, kritis dan ikhlas menyumbangkan solusi. Jangan juga menjadi “anjing hutan”  yang hanya untuk memenuhi kepuasan pihak tertentu menggonggong bahkan menggigit tanpa arah dan alasan.

Menulis dan merusak nama baik seseorang atau lembaga tentu dengan berlindung dibalik kalimat, praduga tak bersalah”.  Kita (wartawan) adalah pejalan sunyi yang jarang “berbunyi” tanpa alasan. Konten kita adalah “raja” yang harus menjadi alasan untuk semua orang menjadi manusia seutuhnya.

Keempat, jangan pernah takut berjalan sendiri dan menjadi diri sendiri. Kita (wartawan) adalah tuan atas diri kita sendiri. Pikiran dan hati adalah modal utama yang tidak boleh dihibahkan untuk materi dan jabatan tertentu.

Terus melangkah dan sesekali menoleh untuk bisa belajar pada masa lalu. Terkadang kita harus berani menjadi “tuli” untuk semua tawaran murahan yang dapat menggadai profesionalitas diri. Baju profesimu hanya satu. Jurnalis. Bukan jurnalis-politisi dan atau sebagainya.

Teruslah melangkah karena semesta memiliki logika yang nyata. Memberi apa yang kamu butuhkan dan bukan apa yang kamu inginkan. Dunia selalu punya cara untuk kita menjadi raja atas diri sendiri.
 
Epilog
 
Hari Pers Nasiona tahun ini sudah berlalu. Bersama kita me-restart dan perlu bertanya, apa perlu saya tetap menjadi wartawan independen atau saya fokus saja pada pilihan sebagai guru, pebisnis, politisi dan sebagainya.

Cara kita menatap diri adalah bagian yang paling menentukan. Bersahabat dengan penguasa/pejabat itu baik tetapi tetaplah menjadi diri sendiri.

Sesungguhnya, banyak yang berbicara tetapi tidak mengatakan apa-apa. Teruslah menulis dan biarkan kata itu yang berbicara.

Seorang wartawan diminta untuk menyelam lebih dalam. Bukan hanya soal Pak Gubernur membuka kegiatan NTT Mart tetapi menulis lebih dalam mengapa NTT Mart itu penting?

Lalu ketika NTT Mart itu sudah selesai di-launching, bagaimana proses selanjutnya. Jangan sampai, NTT Mart di-launching untuk ditutup? Nah itu yang perlu didalami dan diawasi.

Kita (wartawan) butuh konsentrasi dan konsistensi menelusuri jalan sunyi fakta (fenomena) yang melampau acara seremonial. Sesungguh profesi menjadi wartawan adalah pilihan yang harus dipertaruhkan. (*)

Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved