Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Opini - Wartawan di Persimpangan Jalan?

Ia lahir dari proses verifikasi yang panjang, dari keberanian mempertanyakan narasi dominan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, Pejalan Sunyi Literasi NTT 

Opini - Wartawan di Persimpangan Jalan?
(Sebuah Autokritik Memaknai Hari Pers Nasional 2026)

Oleh : Gusty Rikarno
Pejalan Sunyi Literasi NTT
 
POS-KUPANG.COM - Menulis tema ini adalah cara saya (kami) merayakan hidup. Perjalanan panjang yang kadang melelahkan, bikin resah-gelisah dan seakan berada di persimpangan jalan.

Namun, saya (kami) adalah pejalan kaki, paham arah pergi dan jalan pulang. Sebagai pekerja pers, kami (saya) berhenti sejenak. Menatap jejak yang telah dilewati sambil melukis jalan yang ingin dilalui. Adakah kami (saya) sedang di persimpangan jalan?

Menatap langit dan berharap ada suara ikhlas untuk jalan yang harus dipilih? Apakah saya (kami) seorang politisi, pebisnis, guru (dosen) yang sedang mengenakan baju wartawan? Akh, bisa saja, kami (saya) adalah pendoa yang terlempar dari kesunyian dan sedang mencari jati diri.

Entahlah. Dunia tidak secerdas itu untuk cepat mengerti dan menilai. Biarkan kami di sini. Menatap diri lebih lama agar kami tahu, hidup adalah pilihan yang harus pertaruhkan.

Beberapa waktu lalu, dua orang sahabat kami tampil di TVRI. Pak Ferry Jahang yang adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) wilayah NTT dan Pak Frans Pati Herin sebagai Wartawan Kompas.

Mereka berdiskusi dan berbagi cerita di studio TVRI Kupang-NTT, seperti dua orang murid dalam cerita Injil di jalan ke Emaus. Ada nada optimis tetapi lebih didominasi perasaan ragu, resah dan sedikit “bingung” seputar dunia pers akhir-akhir ini.

Mereka jarang terlihat senyum apalagi terbahak-bahak. Ada musuh imajiner yang sangat “mengganggu” dan mengusirnya hanya dengan berbicara apa adanya.

Sebagai Ketua PWI NTT, Pak Ferry berbicara pelan tapi dengan suara yang berat. Tidak ada yang ditutupi. Menurutnya, masyarakat NTT harus berbangga karena saat ini sudah ada 300-350 media (cetak dan online) di NTT yang aktif membagikan informasi (menyampaikan wawasan), meng-edukasi, menghibur dan kontrol sosial.

Namun banyak wartawan menjalankan (menghidupkan) medianya seorang diri. Dalam dirinya berperan sebagai wartawan lapangan, editor, pimpinan redaksi, pencari iklan dan sebagainya. Hal ini sangat berpengaruh pada independensi dan kredibilitas media itu sendiri.

Saat ditanya, apakah saudara sudah berperan sebagai wartawan profesional? Pak Frans Pati Herin menjawab dengan tegas bahwa dirinya sejauh ini, sangat independen dan menolak dengan tegas ketika ada yang mencoba mengguncang harga dirinya dengan “amplop”.

Menurutnya, kualitas diri wartawan terletak pada konten berita yang dipilihnya. “Konten adalah raja”, ujarnya.
 
Wartawan di Persimpangan Jalan : Antara Substansi Atau Sensasi?
 
Di tengah banyaknya media dan riuhnya arus informasi, saya (kami) para wartawan sering dipaksa berlari lebih cepat dari napas kami sendiri.

Berita harus segera tayang, judul harus memancing klik dan algoritma seolah menjadi hakim yang menentukan hidup-matinya sebuah tulisan.

Pada titik inilah, kami “merayap” tak berdaya. Sensasi datang dengan daya tarik yang sulit ditolak. Ia seperti kembang api di langit malam. Terang, memukau, dan mengundang decak kagum.

Namun seperti kembang api, sensasi sering berumur pendek. Ia meledak cepat, menyebar luas, lalu hilang tanpa meninggalkan kedalaman makna.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved