Breaking News
Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Opini - Wartawan di Persimpangan Jalan?

Ia lahir dari proses verifikasi yang panjang, dari keberanian mempertanyakan narasi dominan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, Pejalan Sunyi Literasi NTT 

Apakah kita memilih sesuatu yang cepat menarik perhatian, atau sesuatu yang sungguh-sungguh membangun pemahaman? Di persimpangan jalan antara substansi dan sensasi,  kualitas pemberitaan menentukan kesadaran masyarakat pembaca di masa depan.
 
Konten Adalah Raja
 
Satu hal yang menarik ditampilkan Frans Pati Herin adalah satu kalimat “konten adalah raja”. Perhatikan sebuah fenomena wacana akhir-akhir ini.

Pikiran dan konsentrasi banyak pihak khususnya pemerintah “tersedot” pada peristiwa anak “bundir” di Bajawa. Wartawan Kompas bernama, Frans Pati Herin itulah yang memberitakan kejadian ini makin viral (walau mungkin bukan orang yang pertama kali memberitakannya).

Ia (Frans) menulis dari sudut yang berbeda. Seorang anak kelas IV SD, menuliskan sepucuk surat dengan diksi yang “mengiris” hati, lalu mengakhiri hidup dengan cara tragis dengan sebuah alasan yang disinyalir sangat sederhana tetapi memberi pesan mendalam.

Konten yang baik bukanlah yang paling sensasional, tetapi yang paling jujur. Ia lahir dari proses verifikasi yang panjang, dari keberanian mempertanyakan narasi dominan, dan dari komitmen untuk menghormati martabat manusia.

Dalam dunia yang sering terjebak pada opini cepat dan emosi sesaat, konten jurnalistik yang bermutu hadir sebagai oase rasionalitas, mengajak pembaca berhenti sejenak, berpikir, dan mempertanyakan apa yang selama ini dianggap biasa.

Di akhir-akhir ini, judul provokatif sebuah pemberitaan lebih cepat menyebar daripada laporan mendalam. Algoritma terkadang lebih menghargai kontroversi daripada akurasi.

Dalam situasi seperti ini, jurnalis dihadapkan pada dilema, apakah mengikuti arus perhatian publik atau tetap setia pada nilai-nilai profesi.

Di sinilah makna sejati dari “konten adalah raja” diuji. Raja yang sejati bukanlah yang paling populer, tetapi yang mampu mempertahankan integritasnya di tengah godaan kekuasaan semu.

Pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya soal menyampaikan informasi, melainkan membangun kepercayaan. Kepercayaan tidak lahir dari kemasan yang mewah, melainkan dari isi yang jujur dan bermakna.

Ketika konten diperlakukan sebagai raja, jurnalisme kembali pada hakikatnya yakni menjadi penjaga akal sehat masyarakat, penutur kisah-kisah yang sering terabaikan, dan saksi bagi realitas yang kadang ingin disembunyikan. Maka, “konten adalah raja” adalah kompas moral.

Ia mengingatkan bahwa di tengah perubahan teknologi dan tekanan ekonomi media, yang paling menentukan nilai sebuah berita tetaplah kedalaman makna dan integritas isi.

Selama kam (jurnalis) masih percaya pada kekuatan kata yang jujur, masih berani menulis dengan hati dan akal sehat, kerajaan jurnalisme tidak akan runtuh. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukanlah yang paling ramai, melainkan yang paling benar.

Oleh karena itu, beberapa butir pikiran yang bisa saya sumbangkan untuk diri sendiri dan kawan-kawan seprofesi.

Pertama, wartawan adalah pejalan kaki tangguh. Merasakan lebih dekat denyut nadi masyarakat, menatap lebih tajam dan dalam sekian banyak fakta dan atau fenomena tertentu serta mendengar lebih jelas rintihan hati masyarakat kecil.

Jika hidup hanya sebatas cerita, untuk apalagi menulis hanya membuat seseorang atau sekelompok orang tersenyum lebar tetapi melukai sekian banyak hati yang  yang menatap dalam diam.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved