Opini
Opini - Wartawan di Persimpangan Jalan?
Ia lahir dari proses verifikasi yang panjang, dari keberanian mempertanyakan narasi dominan.
Opini - Wartawan di Persimpangan Jalan?
(Sebuah Autokritik Memaknai Hari Pers Nasional 2026)
Oleh : Gusty Rikarno
Pejalan Sunyi Literasi NTT
POS-KUPANG.COM - Menulis tema ini adalah cara saya (kami) merayakan hidup. Perjalanan panjang yang kadang melelahkan, bikin resah-gelisah dan seakan berada di persimpangan jalan.
Namun, saya (kami) adalah pejalan kaki, paham arah pergi dan jalan pulang. Sebagai pekerja pers, kami (saya) berhenti sejenak. Menatap jejak yang telah dilewati sambil melukis jalan yang ingin dilalui. Adakah kami (saya) sedang di persimpangan jalan?
Menatap langit dan berharap ada suara ikhlas untuk jalan yang harus dipilih? Apakah saya (kami) seorang politisi, pebisnis, guru (dosen) yang sedang mengenakan baju wartawan? Akh, bisa saja, kami (saya) adalah pendoa yang terlempar dari kesunyian dan sedang mencari jati diri.
Entahlah. Dunia tidak secerdas itu untuk cepat mengerti dan menilai. Biarkan kami di sini. Menatap diri lebih lama agar kami tahu, hidup adalah pilihan yang harus pertaruhkan.
Beberapa waktu lalu, dua orang sahabat kami tampil di TVRI. Pak Ferry Jahang yang adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) wilayah NTT dan Pak Frans Pati Herin sebagai Wartawan Kompas.
Mereka berdiskusi dan berbagi cerita di studio TVRI Kupang-NTT, seperti dua orang murid dalam cerita Injil di jalan ke Emaus. Ada nada optimis tetapi lebih didominasi perasaan ragu, resah dan sedikit “bingung” seputar dunia pers akhir-akhir ini.
Mereka jarang terlihat senyum apalagi terbahak-bahak. Ada musuh imajiner yang sangat “mengganggu” dan mengusirnya hanya dengan berbicara apa adanya.
Sebagai Ketua PWI NTT, Pak Ferry berbicara pelan tapi dengan suara yang berat. Tidak ada yang ditutupi. Menurutnya, masyarakat NTT harus berbangga karena saat ini sudah ada 300-350 media (cetak dan online) di NTT yang aktif membagikan informasi (menyampaikan wawasan), meng-edukasi, menghibur dan kontrol sosial.
Namun banyak wartawan menjalankan (menghidupkan) medianya seorang diri. Dalam dirinya berperan sebagai wartawan lapangan, editor, pimpinan redaksi, pencari iklan dan sebagainya. Hal ini sangat berpengaruh pada independensi dan kredibilitas media itu sendiri.
Saat ditanya, apakah saudara sudah berperan sebagai wartawan profesional? Pak Frans Pati Herin menjawab dengan tegas bahwa dirinya sejauh ini, sangat independen dan menolak dengan tegas ketika ada yang mencoba mengguncang harga dirinya dengan “amplop”.
Menurutnya, kualitas diri wartawan terletak pada konten berita yang dipilihnya. “Konten adalah raja”, ujarnya.
Wartawan di Persimpangan Jalan : Antara Substansi Atau Sensasi?
Di tengah banyaknya media dan riuhnya arus informasi, saya (kami) para wartawan sering dipaksa berlari lebih cepat dari napas kami sendiri.
Berita harus segera tayang, judul harus memancing klik dan algoritma seolah menjadi hakim yang menentukan hidup-matinya sebuah tulisan.
Pada titik inilah, kami “merayap” tak berdaya. Sensasi datang dengan daya tarik yang sulit ditolak. Ia seperti kembang api di langit malam. Terang, memukau, dan mengundang decak kagum.
Namun seperti kembang api, sensasi sering berumur pendek. Ia meledak cepat, menyebar luas, lalu hilang tanpa meninggalkan kedalaman makna.
Dalam karya jurnalistik, sensasi sering menyamar sebagai keberhasilan, jumlah klik, komentar panas, atau viralitas yang menggebu. Kami tersudut pada keyakinan bahwa yang ramai adalah yang paling bernilai.
Namun di balik semua kegaduhan itu, ada sebongkah hati yang sedang menatap wajahnya sendiri. Apakah “point” dari tulisan ini?
Apakah pilihan menjadi seorang jurnalis adalah panggilan etis dimana kebenaran tetap menjadi yang pertama dan utama. Kami sadar, ketika menulis tentang kemiskinan, konflik sosial, atau dunia pendidikan yang “digadai” dan sebagainya, sesungguhnya kami tidak hanya melaporkan peristiwa tetapi membentuk cara masyarakat melihat dunia.
Substansi itu berjalan dengan cara yang berbeda. Seperti benih yang ditanam dalam tanah, membutuhkan waktu, kesabaran, dan kepercayaan.
Tetapi justru di situlah kekuatannya. Tumbuh perlahan, mengakar kuat, dan menghasilkan perubahan yang bertahan lama. Dalam dunia jurnalistik, substansi adalah keberanian untuk tetap setia pada kebenaran meski tidak selalu populer.
Immanuel Kant (salah satu pelopor filsafat kritis), mengajarkan pentingnya kritik terhadap akal. Semboyannya terkenal: Sapere Aude (berani berpikir sendiri).
Filsafat kritis adalah cara berfilsafat yang tidak menerima realitas begitu saja, tetapi mempertanyakan struktur kuasa, ideologi, dan asumsi tersembunyi di balik pengetahuan, budaya, pendidikan, media, dan sistem sosial.
Ia bukan sekadar berpikir kritis dalam arti umum, tetapi sebuah tradisi intelektual yang berusaha membongkar ketidakadilan dan membebaskan kesadaran manusia.
Mengendus yang substansi dan membedakan dari yang sesasi adalah jalan sunyi yang melampaui berita acara seremonial. Wartawan kritis bakal mulai bertanya, mengapa dan bagaimana.
“Mengapa pihak kampus Universitas Citra Bakti (UCB) Kupang membuka program studi kedokteran? Apakah NTT “darurat kesehatan” dan sedang kekurangan tenaga dokter?
Bagaimana persiapan tenaga pengajarnya, bagaimana persiapan sarana-prasarana dan di rumah sakit mana mereka ber-praktek?
Itu hanyalah salah satu contoh cara mengendus nilai “substansi” sebuah produk jurnalistik. Ada sekian banyak fakta dan fenomena lain dan sangat menarik untuk didalami lebih serius.
Substansi menuntut keberanian intelektual. Ia mengajak untuk membaca lebih lambat, memahami lebih dalam, dan meragukan lebih kritis.
Substansi tidak selalu menyenangkan, karena kebenaran seringkali menantang kenyamanan. Tetapi justru melalui proses itu, kesadaran manusia bertumbuh.
Karya jurnalistik bukan sekadar kemampuan menuliskan teks, melainkan kemampuan membaca fenomena dan menemukan makna dari kebisingan. Persimpangan ini bukan hanya milik institusi media tertentu. Ia adalah pilihan pribadi sebagai wartawan.
Apakah kita memilih sesuatu yang cepat menarik perhatian, atau sesuatu yang sungguh-sungguh membangun pemahaman? Di persimpangan jalan antara substansi dan sensasi, kualitas pemberitaan menentukan kesadaran masyarakat pembaca di masa depan.
Konten Adalah Raja
Satu hal yang menarik ditampilkan Frans Pati Herin adalah satu kalimat “konten adalah raja”. Perhatikan sebuah fenomena wacana akhir-akhir ini.
Pikiran dan konsentrasi banyak pihak khususnya pemerintah “tersedot” pada peristiwa anak “bundir” di Bajawa. Wartawan Kompas bernama, Frans Pati Herin itulah yang memberitakan kejadian ini makin viral (walau mungkin bukan orang yang pertama kali memberitakannya).
Ia (Frans) menulis dari sudut yang berbeda. Seorang anak kelas IV SD, menuliskan sepucuk surat dengan diksi yang “mengiris” hati, lalu mengakhiri hidup dengan cara tragis dengan sebuah alasan yang disinyalir sangat sederhana tetapi memberi pesan mendalam.
Konten yang baik bukanlah yang paling sensasional, tetapi yang paling jujur. Ia lahir dari proses verifikasi yang panjang, dari keberanian mempertanyakan narasi dominan, dan dari komitmen untuk menghormati martabat manusia.
Dalam dunia yang sering terjebak pada opini cepat dan emosi sesaat, konten jurnalistik yang bermutu hadir sebagai oase rasionalitas, mengajak pembaca berhenti sejenak, berpikir, dan mempertanyakan apa yang selama ini dianggap biasa.
Di akhir-akhir ini, judul provokatif sebuah pemberitaan lebih cepat menyebar daripada laporan mendalam. Algoritma terkadang lebih menghargai kontroversi daripada akurasi.
Dalam situasi seperti ini, jurnalis dihadapkan pada dilema, apakah mengikuti arus perhatian publik atau tetap setia pada nilai-nilai profesi.
Di sinilah makna sejati dari “konten adalah raja” diuji. Raja yang sejati bukanlah yang paling populer, tetapi yang mampu mempertahankan integritasnya di tengah godaan kekuasaan semu.
Pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya soal menyampaikan informasi, melainkan membangun kepercayaan. Kepercayaan tidak lahir dari kemasan yang mewah, melainkan dari isi yang jujur dan bermakna.
Ketika konten diperlakukan sebagai raja, jurnalisme kembali pada hakikatnya yakni menjadi penjaga akal sehat masyarakat, penutur kisah-kisah yang sering terabaikan, dan saksi bagi realitas yang kadang ingin disembunyikan. Maka, “konten adalah raja” adalah kompas moral.
Ia mengingatkan bahwa di tengah perubahan teknologi dan tekanan ekonomi media, yang paling menentukan nilai sebuah berita tetaplah kedalaman makna dan integritas isi.
Selama kam (jurnalis) masih percaya pada kekuatan kata yang jujur, masih berani menulis dengan hati dan akal sehat, kerajaan jurnalisme tidak akan runtuh. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukanlah yang paling ramai, melainkan yang paling benar.
Oleh karena itu, beberapa butir pikiran yang bisa saya sumbangkan untuk diri sendiri dan kawan-kawan seprofesi.
Pertama, wartawan adalah pejalan kaki tangguh. Merasakan lebih dekat denyut nadi masyarakat, menatap lebih tajam dan dalam sekian banyak fakta dan atau fenomena tertentu serta mendengar lebih jelas rintihan hati masyarakat kecil.
Jika hidup hanya sebatas cerita, untuk apalagi menulis hanya membuat seseorang atau sekelompok orang tersenyum lebar tetapi melukai sekian banyak hati yang yang menatap dalam diam.
Sebagai pejalan kaki tangguh, wartawan enggan berada di zona nyaman dengan menunggu undangan jumpa pers. Ia “berjalan” dengan mata, telinga dan hati yang bebas. Tidak terpengaruh atau dipengaruhi oleh kuasa, “uang bensin” dan semacamnya.
Ia terus berjalan menangkap setiap fenomena, fakta dan data apa adanya. Menulis dengan tajam dan membiarkannya mengalir dalam diam hingga mengubah kebijakan yang tidak berpihak pada yang kecil dan papa. Di jalan ini, wartawan melangkah tegap dalam kompas etika dan praduga tak bersalah.
Kedua, tidak mengapa jika harus berperan ganda sebagai wartawan, pimpinan redaksi, melobi untuk mendapatkan iklan dan lain-lain. Dunia memang sedang tidak baik-baiknya.
Namun ada satu hal yang kita ikhlaskan adalah “zona nyaman” dan konsisten berjalan sendiri. Berani bertransformasi secara rasional dan profesional.
Menumbuhkan diri dalam satu satu cara adalah kita (wartawan) yang sering “tersudut” dan kadang tidak dianggap. Teruslah bertumbuh dalam iklim yang harus “diciptakan” bersama.
Memutuskan untuk melanjutkan pendidikan atau membentuk arisan wartawan untuk saling mendukung (menumbuhkan) dalam kegiatan produktif, adalah salah satu contoh. Dunia berubah dan kita sepantasnya ikut berubah di dalamnya.
Ketiga, tetaplah konsisten sebagai “anjing” cerdas, terlatih dan konsisten untuk menggonggong, mengawasi dan bila perlu “menggigit” apa dan siapapun yang melecehkan nilai kebenaran, keadilan dan kebaikan bersama.
Membangun persahabatan dan kerja sama dengan pemerintah misalnya, tidak berarti menggadaikan harga diri dan profesionalisme.
Tetap tajam, kritis dan ikhlas menyumbangkan solusi. Jangan juga menjadi “anjing hutan” yang hanya untuk memenuhi kepuasan pihak tertentu menggonggong bahkan menggigit tanpa arah dan alasan.
Menulis dan merusak nama baik seseorang atau lembaga tentu dengan berlindung dibalik kalimat, praduga tak bersalah”. Kita (wartawan) adalah pejalan sunyi yang jarang “berbunyi” tanpa alasan. Konten kita adalah “raja” yang harus menjadi alasan untuk semua orang menjadi manusia seutuhnya.
Keempat, jangan pernah takut berjalan sendiri dan menjadi diri sendiri. Kita (wartawan) adalah tuan atas diri kita sendiri. Pikiran dan hati adalah modal utama yang tidak boleh dihibahkan untuk materi dan jabatan tertentu.
Terus melangkah dan sesekali menoleh untuk bisa belajar pada masa lalu. Terkadang kita harus berani menjadi “tuli” untuk semua tawaran murahan yang dapat menggadai profesionalitas diri. Baju profesimu hanya satu. Jurnalis. Bukan jurnalis-politisi dan atau sebagainya.
Teruslah melangkah karena semesta memiliki logika yang nyata. Memberi apa yang kamu butuhkan dan bukan apa yang kamu inginkan. Dunia selalu punya cara untuk kita menjadi raja atas diri sendiri.
Epilog
Hari Pers Nasiona tahun ini sudah berlalu. Bersama kita me-restart dan perlu bertanya, apa perlu saya tetap menjadi wartawan independen atau saya fokus saja pada pilihan sebagai guru, pebisnis, politisi dan sebagainya.
Cara kita menatap diri adalah bagian yang paling menentukan. Bersahabat dengan penguasa/pejabat itu baik tetapi tetaplah menjadi diri sendiri.
Sesungguhnya, banyak yang berbicara tetapi tidak mengatakan apa-apa. Teruslah menulis dan biarkan kata itu yang berbicara.
Seorang wartawan diminta untuk menyelam lebih dalam. Bukan hanya soal Pak Gubernur membuka kegiatan NTT Mart tetapi menulis lebih dalam mengapa NTT Mart itu penting?
Lalu ketika NTT Mart itu sudah selesai di-launching, bagaimana proses selanjutnya. Jangan sampai, NTT Mart di-launching untuk ditutup? Nah itu yang perlu didalami dan diawasi.
Kita (wartawan) butuh konsentrasi dan konsistensi menelusuri jalan sunyi fakta (fenomena) yang melampau acara seremonial. Sesungguh profesi menjadi wartawan adalah pilihan yang harus dipertaruhkan. (*)
Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-02.jpg)