Opini
Opini - Wartawan di Persimpangan Jalan?
Ia lahir dari proses verifikasi yang panjang, dari keberanian mempertanyakan narasi dominan.
Dalam karya jurnalistik, sensasi sering menyamar sebagai keberhasilan, jumlah klik, komentar panas, atau viralitas yang menggebu. Kami tersudut pada keyakinan bahwa yang ramai adalah yang paling bernilai.
Namun di balik semua kegaduhan itu, ada sebongkah hati yang sedang menatap wajahnya sendiri. Apakah “point” dari tulisan ini?
Apakah pilihan menjadi seorang jurnalis adalah panggilan etis dimana kebenaran tetap menjadi yang pertama dan utama. Kami sadar, ketika menulis tentang kemiskinan, konflik sosial, atau dunia pendidikan yang “digadai” dan sebagainya, sesungguhnya kami tidak hanya melaporkan peristiwa tetapi membentuk cara masyarakat melihat dunia.
Substansi itu berjalan dengan cara yang berbeda. Seperti benih yang ditanam dalam tanah, membutuhkan waktu, kesabaran, dan kepercayaan.
Tetapi justru di situlah kekuatannya. Tumbuh perlahan, mengakar kuat, dan menghasilkan perubahan yang bertahan lama. Dalam dunia jurnalistik, substansi adalah keberanian untuk tetap setia pada kebenaran meski tidak selalu populer.
Immanuel Kant (salah satu pelopor filsafat kritis), mengajarkan pentingnya kritik terhadap akal. Semboyannya terkenal: Sapere Aude (berani berpikir sendiri).
Filsafat kritis adalah cara berfilsafat yang tidak menerima realitas begitu saja, tetapi mempertanyakan struktur kuasa, ideologi, dan asumsi tersembunyi di balik pengetahuan, budaya, pendidikan, media, dan sistem sosial.
Ia bukan sekadar berpikir kritis dalam arti umum, tetapi sebuah tradisi intelektual yang berusaha membongkar ketidakadilan dan membebaskan kesadaran manusia.
Mengendus yang substansi dan membedakan dari yang sesasi adalah jalan sunyi yang melampaui berita acara seremonial. Wartawan kritis bakal mulai bertanya, mengapa dan bagaimana.
“Mengapa pihak kampus Universitas Citra Bakti (UCB) Kupang membuka program studi kedokteran? Apakah NTT “darurat kesehatan” dan sedang kekurangan tenaga dokter?
Bagaimana persiapan tenaga pengajarnya, bagaimana persiapan sarana-prasarana dan di rumah sakit mana mereka ber-praktek?
Itu hanyalah salah satu contoh cara mengendus nilai “substansi” sebuah produk jurnalistik. Ada sekian banyak fakta dan fenomena lain dan sangat menarik untuk didalami lebih serius.
Substansi menuntut keberanian intelektual. Ia mengajak untuk membaca lebih lambat, memahami lebih dalam, dan meragukan lebih kritis.
Substansi tidak selalu menyenangkan, karena kebenaran seringkali menantang kenyamanan. Tetapi justru melalui proses itu, kesadaran manusia bertumbuh.
Karya jurnalistik bukan sekadar kemampuan menuliskan teks, melainkan kemampuan membaca fenomena dan menemukan makna dari kebisingan. Persimpangan ini bukan hanya milik institusi media tertentu. Ia adalah pilihan pribadi sebagai wartawan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-02.jpg)