Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opni: Valentine’s Day dan Retaknya Makna Kasih

Bahagia harus terlihat, romantis harus terdokumentasi, dan lebih dari itu perhatian seolah-olah sah kalau sudah diposting ke ruang publik. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI RAFAEL LUMINTANG
Rafael Lumintang 

Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Berbicara tentang acara atau sebut saja “panggung romantis” di bulan Febuari, tentu tidak asing lagi di telinga kita tentang Valentine’s Day. 

Setiap bulan Febuari, timeline kita berubah jadi panggung romantisme yang bergerak secara massal. 

Bingkisan bunga, coklat dengan berbagai jenis yang mahal, bahkan lebih daripada itu, mengupload foto pasangan dengan caption yang manis di akun Instagram, Facebook, dan WhatsApp. 

Tagar Valentine kembali naik daun, brand-brand berlomba kasih promo couple atau sepasang, dan seolah ada tekanan halus bahwa hari yang istimewa tersebut sejatinya dirayakan dengan sesuatu yang sangat “spesial.” 

Baca juga: Opini: Bergerak dari Fall in Love Menuju Standing in Love

Semua tampak indah, estetik, dan tentunya penuh cinta. Namun, di balik background romantisme itu, muncul pertanyaan yang jarang kita tanyakan dengan jujur, “apakah kita benar-benar sedang merayakan cinta yang otentik, atau sekadar mengikuti arus bingkai kasih sayang yang samar-samar?” 

Dalam arus digitalisasi yang serba cepat, relasi yang sering dikatakan “mesra ini” sering terasa seperti proyek pencitraan. 

Bahagia harus terlihat, romantis harus terdokumentasi, dan lebih dari itu perhatian seolah-olah sah kalau sudah diposting ke ruang publik. 

Validasi datang secepat kilat dari jumlah like dan komentar, bukan lagi dari kesetiaan yang sunyi atau komitmen yang bertumbuh pelan-pelan. 

Cinta jadi terasa instan, reaktif, bahkan mudah diganti ketika tidak lagi memberi “sensasi yang sama, yang sesuai selera lama.” 

Kita merayakan “hari kasih sayang dengan meriah,” tetapi barangkali tanpa sadar sedang mengalami disparitas makna. 

Kita tahu cara mengekspresikan cinta, tetapi belum tentu “tahu cara menjalaninya secara dewasa dan bertanggung jawab.” 

Perayaan yang Meriah, Makna yang Menipis

Valentine’s Day atau hari kasih sayang setiap tahun dirayakan dengan penuh antusiasme, khususnya oleh anak-anak muda yang mendominasi perayaan ini. 

Seperti yang saya kemukakan di atas, bunga yang indah, coklat, diskon restoran dan supermarket, bahkan unggahan sosial media yang dipenuhi simbol-simbol yang bernama romantisme. 

Fenomena ini memperlihatkan bahwa hari kasih sayang sangat relevan dengan konteks zaman ini. 

Namun, di balik perayaan yang didominasi oleh “kemeriahan, dan keindahan,” ada suatu suatu diskontinuitas makna terdalam, sebut saja “cinta yang terluka.” 

Hal ini menunjukan bahwa hari kasih sayang perlahan menjelma secara lembut menjadi “ritus konsumsi.” 

Makna cinta kasih ditakar atau diukur dari “harga hadiah,” dari seberapa estetik unggahan, dari seberapa layak dipamerkan relasi itu di ruang digital. 

Hari spesial ini sering bukan lagi soal kesungguhan untuk memaknai dan menghidupinya secara utuh, melainkan soal “momen yang harus kelihatan mewah, dan harus berbeda dengan orang lain.” 

Cinta jadi seperti event tahunan yang seyogiyanya diposting, lengkap dengan coklat, bunga, foto estetik, dan juga foto romantis yang sedikit dibumbui dengan caption manis supaya “validitasnya terjamin di mata publik.” 

Dalam konteks ini, yang penting terlihat romatis, bukan sungguh-sungguh bertumbuh. 

Dari sini kita dapat melihat dengan jernih bahwa ada keretakan yang mulai terasa; cinta tidak lagi direalisasikan sebagai proses yang utuh dan dewasa, tetapi sebagai “sensasi temporal yang harus spektakuler.’

Cinta dalam Bayang-Bayang Pasar dan Budaya Instan

Cinta yang kehilangan keutuhannya seperti yang saya gambarkan di atas tidak muncul secara tiba-tiba. 

Ia tumbuh, hadir, di zaman yang serba cepat, serba mudah, dan serba “harus perfeksionis dan efesien.” 

Kita hidup dalam budaya yang kalau saya bahasakan secara “gaul sesuai zaman milenial ini,” swipe kanan, swipe kiri, chat intens seminggu kemudian ghosting, move on secepat update story. 

Cinta jadi terasa seperti sebuah “hal transaksional,” selama masih bikin nyaman dan bahagia, lanjut; kalau sudah terasa berat atau membosankan, tinggal cari yang baru. 

Saya melihat fenomena ini lebih progresif bahwa “seolah-olah hubungan cinta yang sejatinya tulus dalam diri manusia, bisa direduksi menjadi seperti barang di keranjang belanja.” 

Medsos atau media sosial membuat cinta makin terasa seperti “panggung sandiwara.” 

Hal yang terlihat secara gamblang bukan lagi kedalaman hubungan atau proses saling memahami yang panjang, tapi seberapa estetik dan “layak upload” sebuah relasi terlihat di layar. 

Momentum romantis disulap menjadi konten, kebahagiaan seperti butuh validasi publik supaya terasa keren, spektakuler, nyata, dan ukuran cinta perlahan bergeser ke jumlah “like serta komentar manis.” 

Hal ini memberikan suatu dampak yang tak dapat dipungkiri, cinta kehilangan daya transformasinya, ia tak lagi jadi ruang bertumbuh bersama dalam terminologi “kesetiaan dan komitmen,” melainkan berubah jadi ajang pembuktian diri. 

Dari duduk persoalan ini, cinta mudah direduksi menjadi konsumsi emosional, dinikmati selama masih menyenangkan dan terlihat menarik, lalu ditinggalkan ketika “sensasinya memudar, habis manis sepah dibuang.” 

Erich Fromm dan Seni Mencintai yang Terlupakan

Eric Fromm seorang filsuf Jerman, dalam karyanya yang sangat populer The Art of Loving, dengan tajam mendiagnosis situasi yang tidak pasti di atas. 

Menurut Fromm, problem fundamental manusia modern bukan karena ia tidak dicintai, melainkan karena ia tidak tahu bagaimana menintai. 

Filsuf ini mengafirmasi bahwa cinta bukan sekadar perasaan spontan “aku cinta kamu, lalu upload dan mencari validitas di mata publik,” melainkan sebuah seni. 

Setiap seni menuntut adanya pemblajaran mekanistik tentang disiplin, konsentrasi, kesabaran, serta komitmen yang utuh. 

Cinta adalah aktivitas produktif dari jiwa, bukan sekadar “nafsu kebinatangan yang tidak terkontrol.” 

Dalam kerangka pola pikir masyarakat kapitalistik, menurut Fromm, relasi dialektis manusia cenderung mengikuti “model pasar.” 

Individu kerap diberi label menjadi “komoditas atau barang dagangan utama,” yang berusaha tampil sedemikian rupa agar terlihat menarik supaya dipilih. 

Cinta sekali lagi “disulap” menjadi pertukaran nilai, aku memberikan sesuatu sejauh aku mendapatkan sesuatu yang setara atau lebih. 

Padahal bagi Fromm, “cinta sejati adalah tindakan memberi, bukan dalam arti kehilangan, tetapi dalam arti menegaskan eksistensi diri.” 

Cinta adalah kekuatan yang memungkinkan dua pribadi tetap utuh, namun sekaligus bersatu. Cinta tidak menguasai, tidak mengonsumsi, apalagi memanfaatkan. 

Tak terasa kita sudah berada di penghujung episode di akhir tulisan tentang “hari kasih sayang” ini. 

Valentine’s Day sejatinya menjadi momentum untuk mengingat kembali dimensi ini. 

Bukan sekadar merayakan perasaan, tetapi melatih diri dalam “seni mencintai,” tanggung jawab, respek, pengetahuan dan kepedulian. 

Tanpa itu, cinta akan akan terus retak, bukan karena dunia yang kita pijaki ini kekurangan romantisme, tetapi “karena manusia kehilangan kedewasaan dalam mencinta.”  

Cinta yang terluka bukanlah akibat dari minimnya perayaan, melainkan dari dangkalnya pemahaman. 

Jika Valentine’s Day hanya menjadi festival simbol semata, maka ia akan memperlebar retakan itu. 

Namun jika ia dijadikan instrumen untuk kembali pada makna terdalam kasih sebagai tindakan sadar, komitmen eksistensial, dan tanggung jawab moral, maka luka itu dapat dipulihkan. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved