Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Opini: Krisis Peradaban Administrasi Publik NTT

NTT berada dalam titik seperti itu. Tingkat kemiskinan tinggi, kualitas pendidikan tertinggal, dan tekanan pembangunan semakin nyata. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana *

POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur ( NTT) tidak kekurangan program pembangunan. Transfer fiskal pusat terus mengalir, anggaran pendidikan nasional 2026 mencapai sekitar Rp769 triliun. 

Namun, fakta keras tetap berdiri, tingkat kemiskinan NTT sekitar 19 persen (BPS, 2024), hampir dua kali lipat rata-rata nasional. Indeks Pembangunan Manusia NTT masih berada di kelompok terbawah. 

Sementara itu, Bank Dunia (2023) mencatat learning poverty Indonesia masih di atas 50 persen, anak usia akhir sekolah dasar yang belum mampu membaca dengan pemahaman, dan daerah miskin cenderung lebih terdampak.

Pertanyaannya bukan lagi program apa yang akan diluncurkan, melainkan apa yang salah dalam peradaban administrasi publik yang merancang dan menjalankan seluruh kebijakan itu.

Baca juga: Opini: Memaknai Valentine di Tengah Darurat Femisida di Indonesia

Masalah NTT bukan semata persoalan teknis, tetapi persoalan institusional. Douglass North dalam Institutions, Institutional Change and Economic Performance (1990) menegaskan bahwa institusi, aturan formal dan budaya kerja, menentukan arah perkembangan ekonomi dan sosial. 

Ketika institusinya lemah, pembangunan terseret oleh inersia, meskipun anggaran tersedia.

Dalam konteks ini, kualitas administrasi publik menjadi faktor penentu. Di sanalah arah dirumuskan, data ditafsirkan, keputusan diambil, dan masa depan dibayangkan. Jika budaya kebijakannya dangkal, maka hasilnya pun dangkal.

Dari Jabatan ke Meritokrasi

Max Weber dalam Economy and Society (1922) menyebut birokrasi modern sebagai sistem rasional–legal berbasis kompetensi. 

Artinya, jabatan publik harus ditopang kapasitas, integritas, dan rekam jejak profesional. 

Tanpa meritokrasi, birokrasi mudah terseret pada loyalitas personal dan kalkulasi politik jangka pendek.

Di wilayah dengan tantangan struktural seperti NTT, kegagalan meritokrasi berdampak langsung pada kualitas kebijakan. 

Posisi strategis yang tidak sepenuhnya berbasis kapasitas sulit menghasilkan desain kebijakan yang kompleks dan berjangka panjang. 

Akibatnya, kebijakan cenderung reaktif dan administratif, bukan strategis dan transformatif.

Namun meritokrasi saja tidak cukup. Ia harus diperkaya fondasi berpikir dan etika publik.

Logos, Ethos, Pathos sebagai Pilar

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved