Opini
Opini: Valentine di Tengah Dunia yang Lelah- Masihkah Kita Percaya pada Cinta?
Percaya pada cinta berarti percaya bahwa manusia masih mampu berubah. Bahwa relasi masih bisa diperbaiki. Kebaikan tidak pernah sia-sia
Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa Pascasarjana Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat, tetapi terasa berat.
Informasi datang tanpa jeda, tuntutan hidup makin tinggi, dan kecemasan menjadi teman harian banyak orang.
Dunia seperti sedang berlari tanpa arah yang jelas. Dalam kelelahan kolektif ini, manusia perlahan kehilangan ruang untuk hening, untuk mendengar, dan untuk merawat relasi secara mendalam.
Konflik global, krisis ekonomi, dan polarisasi sosial membuat orang mudah curiga satu sama lain. Di ruang publik, perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan.
Di ruang digital, komentar pedas lebih cepat viral daripada kata-kata bijak. Kita hidup dalam budaya reaksi, bukan refleksi. Semua ingin bersuara, tetapi sedikit yang mau mendengar.
Baca juga: Opini: Digitalisasi Pendidikan Indonesia, Sebuah Refleksi Filosofis
Kelelahan ini merembes sampai ke relasi personal. Banyak orang merasa kesepian, bahkan di tengah keramaian. Komunikasi berlangsung cepat, tetapi tidak selalu menyentuh hati.
Pesan singkat menggantikan percakapan panjang. Emoji menggantikan pelukan. Relasi menjadi instan dan rapuh, mudah terhubung namun mudah pula terputus.
Dalam situasi seperti ini, cinta sering kali dipahami sebagai sesuatu yang memberi rasa nyaman saja. Jika tidak lagi menyenangkan, ia dianggap selesai.
Padahal cinta yang sejati selalu melibatkan proses: memahami, menyesuaikan, berkorban, dan bertahan.
Tanpa kedewasaan, cinta berubah menjadi sekadar kebutuhan emosional yang menuntut dipuaskan.
Sesungguhnya, dunia yang lelah bukan hanya lelah secara fisik atau ekonomi, tetapi lelah secara batin.
Ia lelah karena kurangnya empati, kurangnya kesabaran, dan kurangnya kesediaan untuk berjalan bersama dalam perbedaan.
Kelelahan ini adalah tanda bahwa relasi manusia sedang membutuhkan pemulihan.
Dan pemulihan itu hanya mungkin jika kita berani kembali kepada makna cinta yang lebih dalam: cinta yang tidak hanya menuntut untuk dicintai, tetapi juga siap mencintai lebih dahulu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur.jpg)