Opini
Opini: NTT Mart- Batas Peran Negara dan Pelajaran dari Ekonomi Geografis Baru
Negara harus membantu UMKM mencapai volume, standar, dan konsistensi pasokan agar layak masuk ke jaringan besar.
Di titik inilah negara boleh dan perlu hadir. Konsep enabling state yang dikembangkan oleh Neil Gilbert dan Barbara Gilbert (1989) menegaskan bahwa negara modern seharusnya memperkuat kapasitas warga agar mampu berpartisipasi dalam pasar, bukan menggantikan peran mereka.
Masalah muncul ketika peran distribusi bergeser menjadi aktivitas bisnis langsung. Di sinilah pengalaman historis menunjukkan banyak kegagalan.
Pelajaran dari Kegagalan Usaha Plat Merah
Sejak Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776), para ekonom mengingatkan bahwa negara sebaiknya tidak menjalankan aktivitas produktif yang bisa dilakukan sektor swasta secara efisien.
Pengalaman Indonesia—baik di tingkat nasional maupun daerah—menguatkan peringatan ini.
Banyak BUMN dan BUMD sektor perdagangan hidup dalam ketergantungan pada APBN atau APBD, kalah cepat dari swasta, dan rentan terhadap intervensi politik.
Studi Kementerian BUMN (2019) menunjukkan sebagian besar BUMD ritel daerah mengalami kerugian struktural dan bertahan karena suntikan modal pemerintah.
Ketika mereka gagal, dampaknya tidak netral: pedagang kecil yang sudah tersingkir tidak otomatis bangkit kembali.
Perspektif Ekonomi Geografis Baru: Mengapa Integrasi Lebih Penting dari Toko
Untuk memahami mengapa NTT Mart seharusnya tidak menjadi toko, tetapi justru alat integrasi pasar, teori New Economic Geography dari Paul Krugman menjadi sangat relevan.
Dalam artikelnya Increasing Returns and Economic Geography (1991) dan buku Geography and Trade (1991), Krugman menjelaskan bahwa pemusatan aktivitas ekonomi (agglomeration) bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari mekanisme pasar yang rasional.
Ketika pasar terintegrasi, biaya transportasi menurun, dan skala produksi meningkat, maka akan muncul spesialisasi, peningkatan produktivitas, dan efisiensi biaya.
Ekonomi yang terfragmentasi—seperti UMKM yang berdiri sendiri-sendiri tanpa integrasi logistik dan pasar—akan selalu kalah bersaing.
Sebaliknya, ekonomi yang terhubung dalam jaringan distribusi besar akan menikmati economies of scale, efisiensi transportasi, dan daya saing yang lebih kuat.
Dalam kerangka ini, mendirikan toko pemerintah baru tidak menyelesaikan masalah inti. Yang dibutuhkan UMKM NTT bukan etalase tambahan, tetapi akses ke sistem distribusi berskala besar.
Jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret sudah menciptakan aglomerasi pasar nasional. Masalahnya adalah UMKM NTT belum terintegrasi ke dalam sistem tersebut.
Dari perspektif Krugman, peran negara yang optimal adalah menurunkan biaya integrasi, bukan menjadi pemain ritel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Jermi-Haning-Ronda.jpg)