Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Pertanian Tahan Banjir

Perubahan iklim memperpanjang durasi dan meningkatkan intensitas banjir. Hujan turun lebih deras, lebih lama, dan tak menentu.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Ketergantungan pada stabilitas hidrologi kini menjadi titik lemah. Perubahan tata guna lahan mempercepat limpasan air. Hutan dan rawa menyusut. 

Sungai kehilangan ruang alaminya untuk menampung debit berlebih. Akibatnya, banjir datang lebih sering dan bertahan lebih lama. Pola genangan berubah. Siklus tanam konvensional pun terganggu.

Ketergantungan pada cuaca normal tidak lagi memadai. Pertanian membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan lentur. 

Teknologi, pengetahuan lokal, dan kebijakan harus saling menguatkan. Mengakui banjir sebagai kondisi struktural adalah langkah awal. Dari sanalah solusi berkelanjutan dapat dirancang. 

Dampak Genangan 

Genangan air berdampak langsung pada fisiologi tanaman. Akar kekurangan oksigen. Penyerapan hara terhambat. Metabolisme melambat, lalu terganggu. 

Tanaman kehilangan energi untuk tumbuh. Stres air menjadi pemicu kerusakan lanjutan.

Tanaman pangan utama memiliki toleransi yang terbatas. Padi memang lebih adaptif, tetapi tidak kebal. 

Di luar ambang genangan tertentu, pembungaan terganggu. Pengisian bulir melemah. Produktivitas menurun drastis, bahkan gagal panen.

Bagi petani, banjir berarti risiko kehilangan modal dan pendapatan. Benih, pupuk, dan tenaga kerja sudah dikeluarkan. Hasil panen tidak sebanding dengan biaya. 

Ketidakpastian ini memperbesar kerentanan sosial ekonomi. Rumah tangga petani sulit merencanakan masa depan.

Dalam jangka panjang, tekanan berulang mendorong petani meninggalkan lahannya. Regenerasi pertanian melemah. Produksi pangan lokal pun terancam. 

Dampak banjir melampaui kerusakan fisik. Ia menyentuh keberlanjutan komunitas pedesaan. 

Inovasi Teknologi Tanaman Tahan Banjir

Ilmu pengetahuan menawarkan berbagai inovasi untuk menghadapi genangan. Varietas tanaman toleran banjir menjadi solusi utama. 

Pendekatan ini bekerja langsung pada sumber masalah. Tanaman dibekali kemampuan bertahan. Produksi tetap dijaga di tengah tekanan air.

Pemuliaan tanaman menghasilkan padi yang mampu hidup dalam kondisi terendam. Adaptasi fisiologis menjadi kunci keberhasilan. Pertumbuhan batang menyesuaikan tinggi air. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved