Opini
Opini: Pertanian Tahan Banjir
Perubahan iklim memperpanjang durasi dan meningkatkan intensitas banjir. Hujan turun lebih deras, lebih lama, dan tak menentu.
Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Banjir bukan lagi peristiwa musiman yang datang dan pergi. Di banyak wilayah, ia telah menjadi bagian dari keseharian pertanian.
Sawah, kebun, dan lahan tadah hujan hidup di bawah tekanan air yang berulang.
Air tidak sekadar merendam, tetapi mengubah ritme kerja petani. Musim menjadi sulit ditebak. Risiko menjadi teman tetap.
Baca juga: Opini: Kasih Karunia yang Terlalu Cepat Dianggap Cukup
Perubahan iklim memperpanjang durasi dan meningkatkan intensitas banjir. Hujan turun lebih deras, lebih lama, dan tak menentu.
Pola tanam yang dahulu efektif kini kehilangan relevansi. Kalender tanam bergeser, bahkan runtuh.
Petani dipaksa beradaptasi di tengah ketidakpastian yang terus membesar.
Adaptasi tidak selalu mudah. Varietas tanaman sering tidak tahan genangan.
Infrastruktur air tertinggal dari laju perubahan. Pengetahuan lokal diuji oleh kondisi baru yang ekstrem.
Biaya produksi naik, sementara hasil belum tentu aman. Kerentanan ekonomi pun meningkat.
Di sinilah pertanian tahan banjir menjadi kebutuhan strategis. Bukan sekadar pilihan teknologi, tetapi arah pembangunan. Inovasi benih, pengelolaan air, dan sistem tanam harus berjalan bersama.
Tantangan sosial dan kebijakan tak bisa diabaikan. Masa depan pertanian di zona rawan air bergantung pada keputusan petani.
Banjir sebagai Realitas Baru Pertanian
Banjir kerap dipandang semata sebagai bencana yang merusak. Dalam perspektif pertanian modern, pandangan itu perlu bergeser.
Banjir adalah realitas ekologis yang terus berulang. Ia bukan anomali, melainkan bagian dari sistem alam yang berubah. Menghindarinya tidak selalu mungkin. Mengelolanya menjadi keharusan.
Zona dataran rendah dan daerah aliran sungai sejak lama menjadi pusat produksi pangan.
Tanahnya subur. Airnya melimpah. Namun ironi muncul di balik keunggulan itu. Wilayah yang produktif justru paling rentan tergenang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)