Opini
Opini: Runtuhnya Moral Kolektif Bangsa
Bocah dari Ngada tidak meminta fasilitas modern, gedung mewah, atau reformasi kurikulum. Ia hanya membutuhkan buku tulis.
Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Dosen IFTK Ledalero, tinggal di Civita Youth Camp, Ciputat, Tangerang Selatan.
POS-KUPANG.COM - Tragedi seorang anak kelas IV SD di Ngada yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak memiliki buku tulis dan pulpen seharusnya menggetarkan nurani kita seperti azan subuh yang membelah sunyi.
Di balik dinamika keluarga dan tekanan batin yang mungkin melingkupinya, ada satu fakta telanjang yang tak boleh terus kita tutupi: kemiskinan dan ketimpangan akses pendidikan masih merampas masa depan anak-anak kita dari hal paling sederhana.
Baca juga: Opini: Tragedi di Ngada-Lemahnya Pendidikan Iman bagi Anak-anak
Ironis rasanya. Di negeri yang konstitusinya menjanjikan pendidikan untuk semua, dan ajaran agamanya memuliakan ilmu sebagai nur (cahaya), seorang bocah justru tersandung pada batas seremeh alat tulis.
Dugaan tragis bahwa kehilangan selembar buku bisa merenggut nyawa membuat kita harus bertanya: apakah negara yang bertumpu pada anggaran triliunan benar-benar hadir di ruang kelas paling sunyi?
Jika kasih sayang (raḥmah) tidak menjelma menjadi kebijakan yang dekat, cepat, dan nyata, maka yang padam bukan sekadar cahaya belajar—melainkan martabat kita sebagai bangsa.
Ketika Peradaban Runtuh Karena Absennya Sebatang Pena
Sejak Plato hingga Ki Hadjar Dewantara, pendidikan selalu menjadi fondasi peradaban.
Jepang, Finlandia, Korea Selatan, dan Singapura menunjukkan bahwa kemajuan tidak lahir dari gedung megah, tetapi dari ruang kelas yang manusiawi: guru dihargai, siswa dijaga martabatnya, fasilitas dasar terpenuhi.
Tragedi di Ngada menghantam kesadaran kita: sebelum berbicara tentang kurikulum baru, literasi digital, atau transformasi pendidikan, pastikan terlebih dahulu tidak ada lagi anak Indonesia yang terhalang belajar hanya karena tidak mampu membeli alat tulis.
Pendidikan Dasar “Gratis”, Tapi Tidak Pernah Benar-benar Gratis
Selama bertahun-tahun kita dikisahkan bahwa pendidikan dasar gratis. BOS, PIP, dan berbagai program hadir sebagai bukti.
Namun bagi keluarga miskin, “gratis” sering bermetamorfosis menjadi beban tersembunyi: seragam, fotokopi, transportasi, hingga selembar buku tulis.
Tragedi di Ngada merobek ilusi itu. Jika alat tulis—simbol paling sederhana dari proses belajar—masih bisa menjadi beban mematikan, maka pendidikan kita belum sungguh-sungguh gratis, dan amanah negara terhadap anak-anak paling rentan belum tertunaikan.
Lebih dari sekadar soal ekonomi, ini adalah persoalan kemiskinan struktural yang selama ini dinormalisasi.
Di banyak wilayah, terutama Indonesia Timur, kemiskinan bukan lagi tragedi—melainkan pemandangan biasa.
Padahal bagi seorang anak, dunia sangat kecil: rumah, sekolah, teman, orang tua. Ketika satu pilar retak, seluruh dunianya runtuh.
Di Antara Anggaran Triliunan dan Alat Tulis yang Tak Terbeli
Pater Hendrik Maku
Hendrik Maku
Opini Pos Kupang
Kabupaten Ngada
buku tulis dan pena
Nusa Tenggara Timur
kemiskinan ekstrem
Data Kemiskinan Ekstrem di NTT
POS-KUPANG.COM
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
| Opini: Pendidikan sebagai Jalan Pemulihan Martabat Manusia di Era Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrik-Maku-Pater-01.jpg)