Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Tragedi di Ngada-Lemahnya Pendidikan Iman bagi Anak-anak 

Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan tanpa dialog menjadikan peserta didik objek, bukan subjek. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HANDRI EDIKTUS
Handri Ediktus 

Oleh: Handri Ediktus, CMF
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kematian seorang anak Sekolah Dasar di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan sekadar peristiwa tragis yang mengundang duka mendalam. 

Ia adalah tamparan keras bagi nurani kolektif, terutama bagi masyarakat yang hidup dalam tradisi religius yang kuat dan kerap berbicara tentang iman, kasih, dan martabat manusia. 

Ketika seorang anak, yang seharusnya berada dalam ruang aman untuk bertumbuh, memilih mengakhiri hidupnya karena ketiadaan alat tulis, pertanyaan yang muncul tidak lagi bersifat individual, melainkan moral dan struktural: apa yang sesungguhnya gagal kita jaga bersama? 

Baca juga: Opini: Luka Pendidikan NTT

Dalam Injil, Yesus tidak pernah menempatkan anak di pinggir kehidupan moral. Ia justru memberi peringatan yang sangat tegas: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari yang kecil ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya” (Mat 18:6). 

Sabda ini bukan ancaman simbolik, melainkan penegasan tanggung jawab etis komunitas. 

Anak bukan sekadar objek belas kasihan, melainkan ukuran keberadaban iman itu sendiri.

Tragedi ini tidak bisa direduksi menjadi soal kemiskinan keluarga atau tekanan sekolah semata. 

Di balik keterbatasan ekonomi, tersingkap kesepian batin seorang anak yang memikul rasa malu dan ketidakberdayaan tanpa bahasa untuk mengungkapkannya. 

Beban yang ia tanggung bukan hanya soal buku atau perlengkapan sekolah, melainkan perasaan bahwa dirinya gagal, merepotkan, dan tidak cukup berharga untuk terus hidup.

Kemiskinan, Diam, dan Kesepian Anak

Bagi orang dewasa, kemiskinan dapat dihadapi sebagai situasi hidup. Bagi 
anak, kemiskinan sering hadir sebagai pengalaman eksistensial yang membentuk cara ia memandang dirinya sendiri. 

Anak belum mampu membedakan antara kegagalan sistem dan kegagalan personal. Ketika ia tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah, ia mudah menyimpulkan bahwa sumber masalah ada pada dirinya.

Psikolog perkembangan Erik Erikson menegaskan bahwa “masa kanak-kanak merupakan fase pembentukan rasa percaya diri dan harga diri dasar”. 

Ketika lingkungan gagal memberi penguatan, anak berisiko jatuh pada rasa rendah diri dan keputusasaan. 

Dalam konteks ini, budaya “diam”, “tidak mengeluh”, dan “menahan diri” yang sering diajarkan kepada anak-anak miskin dapat berubah menjadi kesepian emosional yang berbahaya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved