Senin, 27 April 2026

Opini

Opini: Merawat Harmoni di Tengah Stigma- Pelajaran dari Relasi NTT dan Bali

Dalam praktik sehari-hari, relasi sosial antara warga NTT dan masyarakat Bali umumnya berjalan secara berdampingan. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
SILATURAHMI - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma melakukan silaturahmi dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Badung dan Karangasem, Provinsi Bali belum lama ini. 

Dalam konteks konflik sosial, sikap seperti ini penting untuk mencegah eskalasi emosi dan memperluas ruang dialog.

Secara pragmatis, kunjungan tersebut juga menunjukkan pengakuan bahwa persoalan perantauan tidak dapat dibiarkan berjalan tanpa pengelolaan. 

Kabupaten-kabupaten di Pulau Sumba, termasuk Sumba Barat Daya, merupakan daerah dengan tingkat migrasi keluar yang tinggi. 

Tanpa pembinaan yang memadai baik dalam pemahaman hukum, etika sosial, maupun kesiapan mental warga perantau rentan berhadapan dengan konflik sosial di daerah tujuan.

Kehadiran pimpinan daerah membuka ruang refleksi bahwa tanggung jawab pemerintah tidak berhenti di batas administratif wilayahnya.

Lebih jauh, kunjungan ini mengirimkan pesan bahwa hubungan Bali dan NTT harus dirawat dalam kerangka yang lebih dewasa. 

Meski dibangun di atas fondasi sejarah panjang dan mobilitas sosial, relasi antarmasyarakat tetap memerlukan pengelolaan yang adaptif. 

Dialog antarpemerintah daerah menjadi sarana penting untuk merumuskan langkah konkret, seperti pembinaan sebelum migrasi, pendataan komunitas perantau, serta penguatan peran paguyuban sebagai jembatan sosial.

Dengan demikian, kunjungan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan komitmen yang lebih luas antara Bali dan NTT untuk membangun kerja sama lintas wilayah, termasuk edukasi lintas budaya dan pencegahan konflik horizontal. 

Jika ditindaklanjuti secara konsisten, langkah ini berpotensi memperkuat kohesi sosial di kawasan Sunda Kecil sebagai ruang perjumpaan berbagai identitas.

Dari rangkaian dinamika tersebut, beberapa kesimpulan penting dapat ditegaskan.

Pertama, perilaku oknum individu tidak pernah dapat dijadikan pembenaran untuk stigma kolektif terhadap warga dari daerah tertentu. Prinsip keadilan individual harus tetap menjadi fondasi dalam penegakan hukum dan relasi sosial.

Kedua, kunjungan Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma dan para pimpinan daerah merupakan Langkah penting untuk meredakan ketegangan dan membuka ruang dialog yang lebih jujur. 

Langkah ini menunjukkan kesadaran bahwa persoalan perantauan memerlukan pendekatan struktural, bukan sekadar respons sesaat.

Ketiga, komitmen bersama antara Bali dan NTT termasuk pembinaan sebelum migrasi, edukasi lintas budaya, dan dialog berkelanjutan harus dikawal agar tidak berhenti sebagai pernyataan normatif. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved