Opini
Opini: Merawat Harmoni di Tengah Stigma- Pelajaran dari Relasi NTT dan Bali
Dalam praktik sehari-hari, relasi sosial antara warga NTT dan masyarakat Bali umumnya berjalan secara berdampingan.
Oleh : Yohanes Sulistyo Krisna Binsasi, S.Fil
ASN pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi dengan karakter geografis dan sosial yang paling kompleks di Indonesia.
Wilayah ini didominasi oleh gugusan pulau-pulau kecil yang terbentang dari Flores, Sumba, Timor, Alor, hingga Lembata, dengan topografi yang relatif kering, berbukit, dan di banyak wilayah menghadapi keterbatasan sumber daya alam.
Ketergantungan pada sektor pertanian tadah hujan, minimnya industrialisasi, serta kesenjangan pembangunan antarpulau menjadikan NTT sebagai daerah dengan tingkat kerentanan ekonomi yang cukup tinggi.
Secara demografis, NTT dikenal sebagai provinsi dengan komposisi penduduk usia produktif yang besar.
Namun, keterbatasan lapangan kerja lokal membuat mobilitas penduduk menjadi strategi bertahan hidup yang lazim.
Baca juga: Opini: Rekonsiliasi Relasi Bali dan Perantau NTT
Merantau bukan sekadar pilihan individual, melainkan telah menjadi kebiasaan sosial dan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Bagi banyak keluarga di NTT terutama dari Flores, Timor, dan Sumba, merantau dipahami sebagai jalan untuk memperbaiki ekonomi keluarga, membiayai pendidikan saudara, atau membuka peluang hidup yang lebih layak.
Tujuan perantauan warga NTT pun beragam. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Batam menjadi magnet bagi sektor formal dan informal.
Sementara itu, wilayah Indonesia bagian tengah dan timur-termasuk Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Bali menjadi tujuan utama karena kedekatan geografis, jaringan sosial yang telah terbentuk, serta ketersediaan lapangan kerja di sektor jasa, pariwisata, dan konstruksi.
Dalam peta perantauan tersebut, Bali menempati posisi yang sangat penting.
Pulau ini tidak hanya menawarkan peluang ekonomi, tetapi juga telah lama menjadi ruang hidup bagi komunitas diaspora NTT. Hubungan ini tidak lahir secara tiba-tiba.
Secara historis, Bali dan NTT terikat dalam bingkai kawasan Sunda Kecil, sebuah ruang peradaban yang sejak lama dihubungkan oleh jalur perdagangan, migrasi, dan pertukaran budaya, jauh sebelum batas administratif modern terbentuk.
Kedekatan historis ini membentuk relasi sosial yang relatif cair, di mana warga NTT pada dasarnya bukanlah “pendatang asing”, melainkan bagian dari dinamika sosial Bali itu sendiri.
Dalam praktik sehari-hari, relasi sosial antara warga NTT dan masyarakat Bali umumnya berjalan secara berdampingan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Wakil-Gubernur-NTT-Johni-Asadoma-bersalaman-dengan-Sekda-Badung-Ida-Bagus-Surya-Suamba.jpg)