Opini
Opini: Pendidikan Kita- Perut Kenyang, Kantong Kencang, Otak Melayang?
Pendidikan kita butuh lebih dari sekadar karbohidrat dan protein. Pendidikan kita membutuhkan oksigen intelektual.
Oleh: Maurianus F. W. da Cunha
Alumnus IFTK Ledalero, Flores. Saat ini bekerja dan berdomisili di Kota Bolzano, Italia Utara.
POS-KUPANG.COM - Kita balik pada kalender tahun lalu di bulan Agustus 2025, walaupun sebenarnya kita sudah berada di tahun baru dengan impian, harapan, dan tujuan baru tentunya.
Tepatnya pada 15 Agustus 2025, di sebuah panggung megah Presiden Prabowo dengan dada yang membusung bak seorang Jenderal yang baru saja memenangkan pertempuran besar, dengan suaranya yang khas, yang menggelegar, mantap dan sangat yakin pastinya, menyampaikan pidatonya terkait Nota Keuangan RAPBN 2026.
Beliau memproklamasikan sebuah “kemenangan” baru yakni anggaran pendidikan kita naik drastis. Angkanya tidak main-main mencapai Rp757, 8 triliun untuk tahun 2026.
Baca juga: Opini: Ketika Buku dan Pena Menjadi Soal Hidup dan Mati
Dengan bangga beliau melanjutkan bahwa belum pernah ada dalam sejarah negeri ini, uang rakyat diambil dan dialirkan begitu deras pada sumur pendidikan kita.
Kebanggan beliau, (seharusnya) membuat kita sebagai rakyat negeri ini ikut terharu. Tetapi mari kita memicingkan mata sambil meruput kopi hitam pahit, duduk sejenak menjernihkan pikiran kita.
Karena dalam politik, terkadang angka itu ibarat lipstik; dia mempercantik wajah, tapi tak jarang dibaliknya menyembunyikan sariawan atau sakit gusi lainnya.
Akrobat Fiskal dan Rekor Angka
Bukanlah suatu hal yang aneh bahwa presiden kita ini memang gemar pada hal-hal yang wow, atau dibilang bombastis.
Mungkin menurutnya, besaran angka merupakan bukti betapa besar cintanya pada negeri ini.
Apabila kita coba membandingkannya dengan para pendahulunya, angka ini memang tampak besar seperti gajah di tengah kerumunan semut.
Pada era SBY, tercatat bahwa dalam menjawabi mandat konstitusi, pada tahun 2014 kita mencapai Rp375,4 triliun dari Rp62,7 triliun yang ada pada tahun 2014.
Pencapaian ini terjabar dalam program utama seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Siswa Miskin (BSM).
Sedangkan di akhir era Jokowi, angka itu bertengger di kisaran Rp665 triliun pada tahun 2004. Kini di bawah Prabowo lompatannya terlihat fantastis.
Terlihat sangat menarik, tetapi berpotensi melahirkan permasalahan baru. Problemnya bukannya pada cinta terlarang, tapi cinta yang mendarat di hati yang salah, yang dapat berujung pada “broken heart” nasional.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa anggaran itu atas nama “pendidikan”, tapi kalau mau jujur isinya seperti bubur ayam, lebih banyak porsi “tambahan” ketimbang lauk utamanya.
Maurianus F.W. da Cunha
Maurianus F. W. da Cunha
Masalah Pendidikan
Opini Pos Kupang
Makan Bergizi Gratis
program makan bergizi gratis
Prabowo Subianto
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Berpendapat dalam Keprihatinan |
|
|---|
| Opini: Peta Jalan Menuju Malaka Bersih dari Korupsi |
|
|---|
| Opini: Bahasa Biologi- Puisi Kehidupan dari Molekul hingga Makhluk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Maurianus-F-W-da-Cunha.jpg)