Opini
Opini: Buku dan Bulpoin Simbol Ratio et Intellectus
Ketika negara mewajibkan sekolah, maka negara juga wajib memastikan tak ada anak yang tersingkir karena miskin.
Tragedi Anak SD di Ngada dan Retaknya Tanggung Jawab Sosial Kita
Oleh: Henry Saku Bouk, SVD
Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Masyarakat Nusa Tenggara Timur ( NTT) beberapa hari terakhir ini masih hangat dan aktual dalam pikiran, terkait tragedi seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada pada 29 Januari 2026 diduga mengakhiri hidupnya setelah tidak mendapatkan uang dari mama kandungnya untuk membeli buku dan bolpoin.
Ini adalah luka terbuka bagi nurani publik Nusa Tenggara Timur.
Peristiwa ini terlalu serius untuk disederhanakan sebagai “masalah keluarga” atau “masalah ekonomi” atau “ketidaksiapan mental anak”. Ia adalah cermin retaknya relasi antara pendidikan, keluarga, iman, dan negara.
Buku dan Bolpoin: Simbol Ratio et Intellectus.
Dalam tradisi filsafat, buku dan alat tulis bukan sekadar benda material. Ia adalah simbol ratio et intellectus, akal budi dan daya pikir manusia.
Dengan dan melalui buku dan bolpoin seseorang mengekspresikan pikirannya untuk dibaca oleh dirinya dan orang lain.
Atas dasar ini, Plato melihat pendidikan sebagai jalan pembebasan jiwa dari kegelapan.
Aristoteles menekankan bahwa akal budi bertumbuh dalam habitus, kebiasaan yang dibentuk lingkungan sosial seseorang berada. Immanuel Kant menyebut pencerahan sebagai keberanian menggunakan akal budi sendiri.
Baca juga: Opini: Luka Bangsa dari NTT
Rene Descartes, seorang filsuf, fisikawan dan matematikawan asal Prancis, berkata, ‘cogito ergo sum’, aku berpikir maka aku ada.
Tindakan berpikir adalah bukti tak terbantahkan dari eksistensi diri. Jika dia meragukan segala sesuatu, maka tindakan meragukan itu sendiri membuktikan adanya subyek yang berpikir.
Ketika seorang anak SD minta uang dari ibunya untuk membeli buku dan bolpoin ditolak, sebetulnya, dia memaknai penolakan ibunya sebagai pembungkaman atas otonomi ratio et intellectus-nya sebagai subyek yang berpikir.
Perlawanan terhadap pembungkaman itu dia buktikan sebagai subyek yang berpikir lewat tulisan kepada mamanya pada secarik kertas buram sebelum mengakhiri hidupnya, bunyinya:
“Surat buat mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis e mama. Mama saya pergi. Tidak usah mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal mama”.
Tulisan ini adalah reaksi negatif terhadap ibunya yang membungkam ratio et intellectus-nya sebagai subyek yang berpikir yang membutuhkan buku dan bopoin untuk mengekspresikan keberadaannya, ‘cogito ergo sum’.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Buku-dan-pena.jpg)