Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini: Luka Bangsa dari NTT 

Kepergianmu jelas adalah luka bangsa. Duka, yang semoga mengubah wajah indah Indonesia selanjutnya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YAHYA ADO
Yahya Ado 

Oleh: Yahya Ado 
Kandidat Doktor Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya 

POS-KUPANG.COM - Setiap  anak lahir dengan harapan yang sama. Ingin tumbuh, belajar, dan bermimpi tentang masa depan yang lebih baik. 

Di ruang-ruang sunyi rumah sederhana, anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Indonesia menyimpan cita-cita yang jujur. 

Mereka ingin sekolah, ingin membaca, ingin menjadi seseorang. Mereka bermimpi besar dan polos. 

Harapan mereka bukanlah impian tunggal. Negara wajib  hadir untuk membersamai. Karena di sanalah martabat sebuah bangsa dititipkan. 

Kemampuan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang merasa hidupnya terlalu kecil untuk diperjuangkan (no one left behind) sesuai mandat Sustainable Development Goals (SDGS).

Baca juga: Opini: Di Balik Uang Rp 10.000

Sayangnya, di negara kaya ini, harapan itu tidak disambut oleh sistem yang  adil dan lingkungan yang aman.  

Anak-anak kerap memikul beban yang seharusnya tidak pernah mereka tanggung sendiri. 

Di banyak tempat, luka ini tidak selalu tampak di permukaan. Ia hadir dalam bentuk kecemasan, rasa malu, dan keputusasaan yang tumbuh dalam diam. 

Padahal dunia internasional telah lama mengingatkan kita, bahwa kesehatan mental anak dan anak muda berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. 

Data Statistik terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) September 2025 mencatat fakta yang mengguncang nurani: 10 sampai 20 persen anak dan anak muda di dunia pernah mengalami gangguan kesehatan mental, dan setengah dari gangguan itu mulai muncul sejak usia 14 tahun. 

Lebih menyayat lagi, bunuh diri kini menjadi penyebab kematian nomor dua pada kelompok usia anak muda secara global.

Angka-angka ini sering kita baca  hanya dengan kepala, dan jarang kita izinkan masuk menyentuh hati. 

Sampai suatu hari, statistik itu menjelma menjadi nama, usia, wajah, tempat, dan tragedi. Kemudian kita merasa pilu dan turut berduka secara nasional. 

Kematian Cita-cita Bangsa 

Seorang anak kecil di NTT berusaia 10 tahun memilih mengakhiri hidupnya. Ia rela mati  karena orang tuanya tidak mampu menyediakan uang sepuluh ribu rupiah hanya untuk membeli buku dan pulpen (Kompas, 2/2/2026). 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved