Opini
Opini: Di Balik Uang Rp 10.000
Para ahli kesehatan mental sepakat bahwa bunuh diri, terlebih pada anak, tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Tragedi Bunuh Diri Anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur
Oleh: Robert Bala *
Catatan editor: Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
POS-KUPANG.COM - Kabar tentang seorang anak Sekolah Dasar kelas 4 di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya karena tidak diberi uang Rp 10.000 untuk membeli buku mengejutkan publik.
Reaksi pun bermunculan: marah, sedih, heran, sekaligus bingung. Bagaimana mungkin persoalan yang tampak sepele berujung pada tragedi yang begitu besar?
Namun di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk mencari kambing hitam atau menghakimi orang tua, melainkan untuk bertanya lebih jujur: benarkah Rp 10.000 itu penyebabnya?
Baca juga: Diduga tak Dibelikan Alat Tulis,Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup,DPR Sebut Tamparan Keras untuk Negara
Ataukah peristiwa ini justru menyingkap kegagalan kita—keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan negara—dalam memahami luka batin anak-anak?
Para ahli kesehatan mental sepakat bahwa bunuh diri, terlebih pada anak, tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Peristiwa kecil sering kali hanya menjadi pemicu terakhir dari tekanan psikologis yang telah menumpuk lama.
Pada anak-anak, tekanan ini kerap tidak terucap karena keterbatasan kemampuan mengelola emosi dan bahasa batin, namun tetap menghimpit dengan kuat.
Karena itu, tulisan singkat yang ditinggalkan sang anak tidak bisa dipahami secara harafiah. Ia lebih merupakan ekspresi simbolik.
Anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap berpikir konkret, memandang dunia secara hitam-putih dan sangat personal.
Ketika permintaan uang untuk membeli buku ditolak, makna yang mereka tangkap belum tentu soal uang.
Bisa jadi yang dirasakan adalah: aku tidak penting, kebutuhanku tidak dipahami, atau aku menjadi beban.
Psikolog perkembangan menjelaskan bahwa anak sering kali belum memiliki kosa kata emosional untuk mengekspresikan rasa kecewa, malu, atau tertekan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Robert-Bala-ceramah.jpg)