Opini
Opini: Selamat Bergabung Kraeng Melki - IKMR Menata Jalan Pergi dan Jalan Pulang
Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR) Kupang adalah nama yang tidak akan pernah bosan untuk didekap.
Oleh: Gusty Rikarno
Pejalan Sunyi Literasi NTT
POS-KUPANG.COM - Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR) Kupang adalah nama yang tidak akan pernah bosan untuk didekap. Betapa tidak, secara administratif, Manggarai telah dipisahkan dalam tiga wilayah kabupatan, tetapi darah dan getaran nadi tetap sama. Mengalir dalam bahasa bahasa, adat dan nilai hidup.
Manggarai adalah nama yang telah +IBw-mendaging+IB0- dalam satu kalimat, +IBw-nakeng ca wae, neka woleng tae+IB0-. Air dan waktu terus mengalir namun ada satu yang tinggal tetap yakni persaudaraan, solidartas dan persatuan yang dibawa mati. Benar. +IBw-Raes cama ka+IBk-eng, wa wae cama-cama, eta golo cama-cama.
IKMR Kupang adalah komunitas pejalan kaki yang sangat mengerti jalan tuju dan jalan pulang. Di setiap dialeg-nya yang beragam, tetap menghembus kata dan cara pandang yang sama. Menjadikan masa lalu sebagai pengalaman dan berktiar untuk masa depan yang lebih baik.
Di tahun ini, IKMR merayakan Natal dan Tahun Baru bersama untuk pertama kalinya. Tanggal 31 Januari di hotel Cahaya Bapa. Mari diam sebentar. Apakah ini sebuah kebetulan atau singkronisasi.
Sebuah getaran semesta untuk refleksi bersama untuk belajar pada masa lalu dan menata masa depan dalam terang (Cahaya) Surgawi. Sedikit informasi, nama Januari berasal dari bahasa Latin Ianuarius, yang diturunkan dari nama dewa Romawi Janus.
Janus adalah dewa yang sangat unik. Ia digambarkan memiliki dua wajah. Satu menghadap ke masa lalu dan satunya lagi ke masa depan. Ia adalah dewa pintu (ianua), peralihan, dan permulaan.
Januari bukan sekadar bulan pertama, tetapi bulan ambang. Janus mengajarkan bahwa setiap awal men-syaratkan refleksi. Kita tidak melompat ke depan tanpa menoleh ke belakang.
Karena itu, Januari sarat dengan ritus evaluasi, resolusi, dan niat baru praktik yang bertahan hingga hari ini. Januari representasi liminalitas, keadaan di antara, belum sepenuhnya lama, belum sepenuhnya baru.
Dalam konteks ini, Ketua dan Pengurus IKMR menjadikan Januari bukan hanya nama bulan tetapi +IBw-sumpah+IB0- untuk selalu bersama sampai akhir, +IBw-raes cama ke+IBk-eng, wa wae cama-cama, eta golo cama-cama+IB0-.
Sebuah keberanian menata langkah untuk tetap bersama dalam kasih persaudaraan, menumbuhkam rasa solidartas dan dan kesadaran bahwa hidup selalu bergerak dan bermakna dalam kebersamaan.
IKMR Menaburkan Warna
Saat masuk ruangan hotel Cahaya Bapa, sesuatu yang tidak biasa bergetar dalam dada. Keindahan-cahaya yang terpancar dari busana adat dan wajah khas Manggarai mendominasi cahaya lampu dan aksesoris hotel.
IKMR akhirnya bukan hanya sekadar nama tetapi wajah, suara dan nafas yang hidup dan bertumbuh. Jujur, sudah belasan tahun saya di sini.
Belum pernah menyaksikan +IBw-ase-ka+IBk-e Manggarai duduk bersama mamadati ruangan hotel yang memiliki kapasitas lebih dari seribu orang.
Ada sentuhan, senyuman, tatapan dan warna suara yang khas punyanya Manggarai. Benar. Orang Manggarai itu bermata cerdas, kritis dan analistis.
Mereka mampu merobohkan tembok jika berada pada posis benar. Namun jika mampu menyetuh hatinya, kamu bakal dilayani seperti +IBw-raja kecil+IB0-. Sebuah ketulusan yang tuntas.
Bapa Frans Sarong, sebagai ketua dewan pengarah tampil. Berbicara tenang namun tajam. Sebagai mantan jurnalis kompas, ia sudah terbiasa berbicara (menulis) to the point.
Ada nada bangga dalam warna suaranya sebagai orang Manggarai. Menurutnya, hati, pikiran dan pengabdian orang Manggarai dalam segala bidang terlihat dan diperhitungkan.
Seperti air, orang Manggarai mengalir sampai ke jauh. Menangkap sekian banyak fenomena sosial, peluang dan ruang untuk ditempati dan bekerja maksimal.
Di beberapa waktu silam (dalam konteks NTT), orang Manggarai berada pada posisi +IBw-urat nadi+IB0- birokrasi. Ada sekian banyak nama yang bisa disebut sekaligus djadikan kebanggaan bersama+IB0-. Ia diam sejenak dan menarik nafas perlahan.
Kemudian ia melanjutkan, Itu cerita sekian tahun lalu. Kita harus berani berhenti sejenak, menatap diri dan mengambl sikap tegas dan jelas agar kembali bangkit dan naik kelas.
Khusus untuk para ASN muda, kiranya harus berani hadir dan memantaskan diri. Orang Manggarai harus tampil kembali menjadi +IBw-nadi+IB0- birkorasi NTT
Saya tidak menangkap pesan +IBw-sukuisme+IB0- dalam kata-katanya. Ia sedang berbicara dengan ase-kae-nya orang Manggarai.
Kata-kata itu lebih kuat sebagai +IBw-cemeti+IB0- agar orang muda Manggarai yang bekerja di segala bidang khusnya dalam bilik birokrasi agar terus menata diri, bertumbuh dalam satu cara yang rasional tetapi berani membaca arah gerak politik yang makin fleksibel dan transparan.
Jika hidup adalah sebuah pertarungan maka haram hukumnya meninggalkan gelanggang sebelum pertaruangan itu dimenangkan.
Sebagai pejalan sunyi di dunia literasi NTT, saya tahu pesan itu merambat ke segala arah. Harus menjadi nadi artinya, posisi kita dipertimbangkan bukan karena kemampuan +IBw-menggosok tangan+IB0- (mencari muka) dengan penguasa.
Saya (kita) diminta untuk +IBw-memantaskan diri agar berada di satu posisi karena kita memang pantas berada di posisi tersebut.
Ada kawan saya pernah berkelakar. +IBw-Kamu orang Manggarai itu pintar dan hebat tetapi terlalu jujur. Tidak mampu +IBw-membaca arah politik+IB0-.
Candaannya, seakan mendapat pembenaran karena beberapa dekade terakhir setelah Pak Ben Boi, beberapa calon gubernur dari Manggarai Raya, tidak pernah tembus menjadi gubernur NTT. Akh, itu konteksnya berbebda.
Intinya orang Manggarai itu cerdas dan kritis. Tidak mau mendapatkan jabatan karena +IBw-menggosok tangan+IB0-. Itu saja.
Selamat Bergabung Kraeng Melki
Pak Melki Laka Lena dalam posisinya sebagai Gubernur NTT dikukuhkan menjadi penasihat kehormatan IKMR Kupang. Ia diberi kain songke, selendang dan topi adat, simbol hati dan pikirannya orang Manggarai.
Para dewan pengarah, ketua dan pengurus IKMR pasti memiliki dasar pertimbangan yang matang ketika memutuskan, meminta Pak Gubernur bergabung dalam keluarga besar IKMR sebagai penasihat kehormatan. Dua peran yang diterima sekaligus. Penasihat-kehormatan IKMR Kupang.
Hemat saya, ada dua hal menjadi dasar pertimbangan yaitu sebagai Gubernur, Pak Melki dpandang sebagai pemimpn muda yang cerdas, kreatif dan profesional.
Selain itu, walaupun Pak Melki ^dilepas ̄ dari posisinya sebagai Gubernur NTT, ia tetap dinilai sebagai orang baik dan berkarakter. Pak Melki berbicara santai dan apa adanya.
^Orang Manggarai itu terkenal sebagai ^kaum ̄ yang memilik solidaritas tinggi. Memiliki sekolah-sekolah unggul seperti Seminari Kisol, tempat saya pernah sekolah. Jika kemudian orang Manggarai itu cerdas-kritis, bisa dipahami karena mereka memiliki sekolah yang bagus ̄.
Namun apakah ia bercerita dalam konteks dulu atau sekarang? Saya belum tahu. Satu hal yang pasti, beliau bangga menjadi penasihat kehormatan IKMR Kupang.
Lagu punyanya musisi Manggarai, Ivan Nestorman kembali didendangkan. Mata leso ge. Pak Melki sebagai ^mata leso ̄nya IKMR Kupang atau IKMR Kupang sebagai ^mata leso ̄nya Pak Melki, biarkan waktu yang menjawab. Namun saya mencoba mengais makna dibalik pengukuhan Pak Melki sebagai penasihat kehornatan IKMR.
Pertama, peralihan dari ^kekuasaan ̄ kepada kebijaksanaan personal. Dalam filsafat politik klasik, kekuasaan (power) berbeda dari kebijaksanaan (wisdom).
Ketika seorang gubernur dikukuhkan sebagai penasehat kehormatan, ia secara simbolik ^ditarik ̄ dari posisi pengambil keputusan koersif menuju peran reflektif.
Pak Melki hadir sebagai pribadi yang sadar untuk memberi arah, menimbang nilai, dan menjaga kebijaksanaan kolektif. Ini menggemakan gagasan Plato tentang philosopher-king bahwa pemimpin ideal bukan hanya memerintah, tetapi membimbing dengan kebajikan (phronesis).
Kedua, sebuah pengakuan timbal balik. Saat negara melalui figur gubernur hadir sebagai penasehat kehormatan, terjadi pengakuan bahwa pembangunan tidak hanya bersumber dari kebijakan struktural, tetapi juga dari nilai-nilai keluarga seperti solidaritas dan tanggung jawab moral.
Ini menegaskan bahwa negara tidak berdiri di atas keluarga, melainkan berdialog dengannya. Selain itu, gelar ^kehormatan ̄ menandakan legitimasi moral, bukan administratif.
Ia tidak mengikat secara hukum, tetapi mengikat secara etis. Secara filosofis, ini sejalan dengan pemikiran Hannah Arendt, otoritas sejati lahir bukan dari paksaan, melainkan dari pengakuan dan kepercayaan.
IKMR sebagai komunitas keluarga memberikan mandat simbolik bahwa nilai dan arah yang mereka junjung selaras dengan visi kepemimpinan publik.
Ketiga, simbol jembatan antara publik dan privat. Filsafat sosial membedakan ranah publik (negara) dan privat (keluarga). Pengukuhan ini menjadi simbol jembatan di antara keduanya.
Negara tidak masuk untuk mengatur, melainkan mendengar dan menasihati, keluarga tidak terisolasi, melainkan diakui sebagai subjek sosial-politik yang bermartabat.
Di sini, politik kembali ke akarnya. Polis sebagai ruang hidup bersama, bukan sekadar administrasi. Selain itu, Bagi Gubernur Melki Laka Lena, posisi penasehat kehormatan adalah panggilan etis.
Ia dituntut menjaga keteladanan, kebijaksanaan tutur, dan kepekaan sosial. Secara filosofis, ini mendekati konsep virtue ethics dimana jabatan kehormatan menuntut keutamaan karakter, bukan sekadar kecakapan teknis.
IKMR Menata Langkah Jalan Pulang dan Jalan Pergi
Tema yang diangkat menarik untuk dimaknai secara sadar. Raes Cama ka¨eng, wa wae cama-cama, eta golo cama-cama. Dalam konteks ini, IKMR harus berani menata jalan pulang dan jalan pergi.
IKMR Kupang harus berani menata jalan pulang. Kembali pada ^ke-Manggarai-an ̄ yang hakiki seperti nilai hidup, identitas, ingatan, dan kebijaksanaan awal.
Secara filosofis, ini sejalan dengan gagasan anamnesis (Plato). Orang Manggarai di Kupang harus mengingat kembali siapa kita sebenarnya.
Menata jalan pulang berarti memastikan bahwa sejauh apa pun kita melangkah dalam karier, kuasa, atau pencapaian tertentu, kita tidak tercerabut dari etika, keluarga, tradisi, dan suara nurani. Pulang bukan mundur, tetapi menjaga makna agar perjalanan tidak kehilangan arah.
Sementara itu, IKMR harus menata jalan pergi, maksudnya merancang masa depan dengan kesadaran. Jalan pergi adalah simbol keberanian untuk melangkah, bertumbuh, dan bertransformasi. Ini berkaitan dengan eksistensialisme. Manusia ditakdirkan untuk memilih dan bergerak maju.
Menata jalan pergi berarti tidak berjalan serampangan, melainkan menyiapkan tujuan, risiko, dan tanggung jawab. Pergi tanpa ditata melahirkan petualangan kosong tetapi pergi yang ditata melahirkan perubahan yang bermakna.
Dalam konteks ini, jalan pulang memberi akar agar kita tidak kehilangan arah dan jalan pergi untuk memberi sayap agar kita tidak mandek.
Filsafat hidup yang matang bukan memilih salah satunya, tetapi merawat keduanya sekaligus. Oleh karena itu, ada beberapa tawaran pemikiran untuk dewan pengarah, ketua dan pengurus IKMR Kupang.
Pertama, sebuah apresiasi tulus atas terobosan kreatif para dewan pengarah, ketua dan pengurus IKMR yang meminta dengan tulus agar Gubernur NTT, Pak Melki Laka Lena berkenan menjadi penasihat kehormatan IKMR. Semesta merestui.
Pak Gubernur akhirnya bersedia dikukuhkan sebagai penasihat kehormatan IKMR Kupang. Hemat saya, ini sebuah terbosan yang kreatif dan edukatif.
Sebagai anggota IKMR Kupang dari Panga Macang Pacar, saya percaya ada niat mulia dari dewan pengarah, ketua dan pengurus IKMR.
Bersama kita melangkah dan bertumbuh dalam kesadaran penuh. Wa wae cama-cama agu eta golo cama-cama. Jangan lagi ada yang masih ^wa wae ̄. Harus ^eta golo ̄ semuanya. Dalam pengamatan saya selama ini, ketua dan pengurus IKMR sudah bekerja maksimal.
Salah satu contoh terlihat, saat ada duka yang dialami keluarga Manggarai, banyak dari pengurus dan anggota IKMR yang hadir. Terima kasih banyak untuk lelah, keringat bahkan air mata agar IKMR tetap menjadi komunitas yang hidup dan bertumbuh.
Kedua, kehadiran Kraeng Melki dalam komunitas keluarga IKMR Kupang, menuntut sikap dan tanggungjawab. Salah satunya, mendukung penuh program kreatif dari pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Para ASN muda IKMR Kupang diharapkan bekerja semaksimal mungkin dan ^memantaskan ̄ diri jika pada saatnya diberi tugas dan wewenang yang lebih besar.
Dalam sambutannya, Kraeng Melki menegaskan tiga program yang sedang dijalankan pemerintah yaitu OVOP (one village one product), OCOP (one community one product) dan OSOP (one school one product).
Walau demikian, sebagai keluarga, kita juga perlu meningatkan (mengkritisi) kebijakan atau program yang kontra-produktif. Tanggungjawab kita sebagai keluarga IKMR adalah tanggungjawab rasional dan profesional.
Mendukung tidak berarti membiarkan Pak Gubernur berjalan sendiri dengan konsep pembangunan yang belum matang.
Salah satu program yang menurut penilaian saya, Prof Feliks Tans dan beberapa yang lainnya, perlu dikritisi dan dimatangkan adalah program OSOP. Kami menilai program adaptasi ini belum ^matang ̄.
Ketiga, dewan pengarah, ketua dan pengurus IKMR, harus berani menata jalan pergi IKMR KUpang dengan proses kaderisasi.
Pesan dari Kak Frans Sarong untuk mengembalikan IKMR sebagai nadi birokrasi NTT adalah satu dari sekian banyak contoh akan pentingnya kaderisasi di segala bidang.
Tema, ^wa wae cama-cama, eta golo cama-cama ̄ mau menegaskan bahwa jalan pergi ke masa depan harus dikonsepkan dan dimatangkan dalam aksi nyata.
Para orangtua jangan membiarkan orang muda berjalan sendiri tetapi sebaliknya diberi arahan agar lebih matang dan profesional.
Sementara yang muda, jangan menjauhkan diri dari orangtua. Lebih banyak melihat dan mendengar. Saya membayangkan ada wadah para dosen IKMR Kupang dari berbagai kampus.
Mereka mulai membimbing, menuntun dan melakukan aksi nyata terhadap kemajuan generasi muda IKMR di Kupang. Harus ada kesempatan para dosen dan mahasiswa Manggarai Raya di Kupang untuk duduk dan berpikir terhadap sekian banyak fenomena sosial.
Mulailah dengan aksi sederhana tetapi produktif dilakukan untuk membangun NTT, Manggarai Raya dan Kota Kupang. Menyelesaikan studi tepat waktu, membersihkan sampah dan aneka kegiatan produktif lainnya.
Epilog
Pengukuhan gubernur sebagai penasehat kehormatan sebuah komunitas keluarga dapat dimaknai sebagai upaya memanusiakan kekuasaan.
Menggeser logika kuasa menuju logika nilai, dari memerintah menuju membimbing, dari struktur menuju relasi.
Dalam konteks sosial kita, ini adalah simbol bahwa pembangunan yang berkelanjutan selalu berakar pada keluarga dan nilai-nilai kemanusiaan. (*)
Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-02.jpg)