Opini
Opini: Selamat Bergabung Kraeng Melki - IKMR Menata Jalan Pergi dan Jalan Pulang
Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR) Kupang adalah nama yang tidak akan pernah bosan untuk didekap.
Ada sentuhan, senyuman, tatapan dan warna suara yang khas punyanya Manggarai. Benar. Orang Manggarai itu bermata cerdas, kritis dan analistis.
Mereka mampu merobohkan tembok jika berada pada posis benar. Namun jika mampu menyetuh hatinya, kamu bakal dilayani seperti +IBw-raja kecil+IB0-. Sebuah ketulusan yang tuntas.
Bapa Frans Sarong, sebagai ketua dewan pengarah tampil. Berbicara tenang namun tajam. Sebagai mantan jurnalis kompas, ia sudah terbiasa berbicara (menulis) to the point.
Ada nada bangga dalam warna suaranya sebagai orang Manggarai. Menurutnya, hati, pikiran dan pengabdian orang Manggarai dalam segala bidang terlihat dan diperhitungkan.
Seperti air, orang Manggarai mengalir sampai ke jauh. Menangkap sekian banyak fenomena sosial, peluang dan ruang untuk ditempati dan bekerja maksimal.
Di beberapa waktu silam (dalam konteks NTT), orang Manggarai berada pada posisi +IBw-urat nadi+IB0- birokrasi. Ada sekian banyak nama yang bisa disebut sekaligus djadikan kebanggaan bersama+IB0-. Ia diam sejenak dan menarik nafas perlahan.
Kemudian ia melanjutkan, Itu cerita sekian tahun lalu. Kita harus berani berhenti sejenak, menatap diri dan mengambl sikap tegas dan jelas agar kembali bangkit dan naik kelas.
Khusus untuk para ASN muda, kiranya harus berani hadir dan memantaskan diri. Orang Manggarai harus tampil kembali menjadi +IBw-nadi+IB0- birkorasi NTT
Saya tidak menangkap pesan +IBw-sukuisme+IB0- dalam kata-katanya. Ia sedang berbicara dengan ase-kae-nya orang Manggarai.
Kata-kata itu lebih kuat sebagai +IBw-cemeti+IB0- agar orang muda Manggarai yang bekerja di segala bidang khusnya dalam bilik birokrasi agar terus menata diri, bertumbuh dalam satu cara yang rasional tetapi berani membaca arah gerak politik yang makin fleksibel dan transparan.
Jika hidup adalah sebuah pertarungan maka haram hukumnya meninggalkan gelanggang sebelum pertaruangan itu dimenangkan.
Sebagai pejalan sunyi di dunia literasi NTT, saya tahu pesan itu merambat ke segala arah. Harus menjadi nadi artinya, posisi kita dipertimbangkan bukan karena kemampuan +IBw-menggosok tangan+IB0- (mencari muka) dengan penguasa.
Saya (kita) diminta untuk +IBw-memantaskan diri agar berada di satu posisi karena kita memang pantas berada di posisi tersebut.
Ada kawan saya pernah berkelakar. +IBw-Kamu orang Manggarai itu pintar dan hebat tetapi terlalu jujur. Tidak mampu +IBw-membaca arah politik+IB0-.
Candaannya, seakan mendapat pembenaran karena beberapa dekade terakhir setelah Pak Ben Boi, beberapa calon gubernur dari Manggarai Raya, tidak pernah tembus menjadi gubernur NTT. Akh, itu konteksnya berbebda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-02.jpg)