Breaking News
Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: BMKG dan Kesadaran Iklim

Dalam banyak situasi, informasi yang dirilis oleh BMKG menjadi batas antara keselamatan dan bencana. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FLADIMIR SIE
Fladimir Sie 

Membangun Etos Kesiapsiagaan demi Kehidupan yang Berkelanjutan di NTT

Oleh: Fladimir Sie
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

POS-KUPANG.COM - Cuaca ekstrem yang akhir-akhir ini melanda berbagai wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menegaskan pentingnya peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai penjaga kehidupan. 

Dalam banyak situasi, informasi yang dirilis oleh BMKG menjadi batas antara keselamatan dan bencana. 

Tetapi realitas memperlihatkan bahwa informasi ilmiah yang sangat penting ini sering tidak dibaca, tidak dipahami atau bahkan diabaikan. 

Situasi ini menjadi alarm bagi kita semua untuk menata ulang cara berpikir dan cara kita merespons perubahan iklim, khususnya di wilayah yang sangat rentan seperti NTT.

NTT merupakan salah satu provinsi dengan dinamika iklim yang kompleks. 

Baca juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem Dinas Parbud Manggarai Tutup Objek Wisata Rawan dan Berisiko

Karakter geografisnya yang terdiri dari pulau-pulau kecil, daerah pesisir yang luas, dan dataran tinggi yang curam menyebabkan wilayah ini sering mengalami angin kencang, kekeringan berkepanjangan, hujan tiba-tiba, hingga banjir bandang. 

Pada musim penghujan, potensi bencana meningkat berlipat: longsor di pegunungan, banjir di daerah cekungan, dan gelombang tinggi yang mengancam para nelayan. 

BMKG berupaya memberi peringatan dini lewat data, radar, pemodelan atmosfer, dan jaringan pengamatan yang tersebar di seluruh negeri. 

Namun data yang akurat saja tidak cukup jika tidak ditindaklanjuti dengan kesiapan masyarakat.

Salah satu tantangan terbesar di NTT adalah rendahnya literasi iklim. Informasi BMKG sering dianggap sekadar laporan teknis yang sulit dipahami atau berita biasa yang tidak terlalu penting. 

Padahal setiap istilah seperti peringatan dini, gelombang tinggi, angin kencang, atau cuaca ekstrem membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Ketika BMKG merilis peringatan potensi gelombang 2,5–4 meter, itu berarti ratusan perahu nelayan seharusnya tidak melaut karena risiko terbalik sangat tinggi. 

Ketika diumumkan potensi hujan lebat di wilayah pegunungan, itu berarti ada bahaya longsor yang dapat menutup jalan, menghanyutkan rumah, atau merenggut nyawa. 

Mengabaikan informasi ini sama saja dengan membiarkan diri melangkah tanpa kompas di tengah badai.

Di sinilah pentingnya membangun budaya siaga iklim. Kita perlu menggeser cara pandang: bahwa informasi cuaca bukan sekadar data tetapi alat penyelamat hidup. 

Pemerintah daerah selayaknya memanfaatkan informasi BMKG sebagai dasar kebijakan. 

Misalnya, menunda proses belajar mengajar jika jalur menuju sekolah rawan longsor, mengatur jadwal pertanian dengan mempertimbangkan pola hujan, menutup jalur laut di saat gelombang tinggi, dan melakukan evakuasi dini sebelum bencana datang. 

Dalam banyak kasus, bencana besar dapat dihindari atau minimal dampaknya dapat dikurangi jika tindakan cepat diambil segera setelah peringatan BMKG dirilis.

Dalam perspektif teologis, peran BMKG sebenarnya dapat dibaca sebagai bagian dari kebijaksanaan penciptaan-yaitu upaya manusia mempelajari dan memahami tanda-tanda alam melalui ilmu pengetahuan. 

Alam memang tidak dapat diprediksi secara sempurna, tetapi ia memberi sinyal-sinyal. 

BMKG adalah lembaga yang menerjemahkan sinyal tersebut menjadi informasi yang bisa dimanfaatkan manusia. 

Maka merespons peringatan BMKG bukan hanya tindakan rasional tetapi juga tindakan etis. 

Dalam Kitab Suci, manusia dipanggil untuk menjaga kehidupan, dan salah satu cara menjaganya adalah dengan menggunakan akal budi sebagai anugerah Tuhan. 

Ketika BMKG memberi peringatan, itu adalah kesempatan menggunakan akal budi tersebut secara bertanggung jawab.

Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ menekankan bahwa krisis ekologis bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi persoalan moral. 

Ketidakpedulian terhadap alam dan tanda-tandanya adalah bentuk ketidakpedulian terhadap sesama manusia, terutama mereka yang paling rentan. 

Cuaca ekstrem tidak memandang status sosial; tetapi mereka yang miskin, tinggal di kawasan rawan, dan bergantung pada alam untuk hidup adalah pihak yang paling menderita. 

Oleh karena itu, memperhatikan informasi dari BMKG adalah wujud dari solidaritas ekologis. Kita menjaga diri, sekaligus menjaga orang lain.

Gereja dan komunitas iman di NTT juga memiliki peran penting dalam memperkuat budaya siaga iklim ini. 

Jaringan paroki, komunitas basis, sekolah-sekolah Katolik, dan kelompok kategorial dapat menjadi saluran komunikasi yang cepat dan efektif. 

Informasi BMKG bisa disampaikan melalui mimbar gereja, pengumuman paroki, grup WhatsApp umat, hingga kegiatan kategorial. 

Kekuatan jaringan sosial religius ini dapat memastikan bahwa peringatan BMKG benar-benar menjangkau masyarakat di kampung-kampung yang tidak selalu terhubung dengan internet atau televisi. 

Dalam konteks pastoral, tindakan ini adalah bagian dari pelayanan Gereja terhadap kehidupan.

Selain itu, dunia pendidikan, dari SD hingga perguruan tinggi, perlu diberi muatan literasi iklim dalam kurikulum lokal. 

Anak-anak dan remaja perlu diajarkan cara membaca informasi cuaca, mengenali tanda-tanda alam, serta memahami hubungan antara perubahan iklim global dengan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. 

Pendidikan seperti ini bukan hanya mempersiapkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang peduli dan bertanggung jawab terhadap bumi.

Namun tanggung jawab terbesar tetap berada pada kita sebagai individu dan masyarakat. Tidak boleh lagi ada sikap meremehkan peringatan BMKG

Tidak boleh lagi ada pandangan bahwa bencana adalah “nasib”, sementara tindakan pencegahan kita abaikan. Kita harus melampaui cara berpikir fatalistis menuju kesadaran ekologis yang matang.

NTT memiliki pengalaman panjang dengan bencana. Dari banjir bandang hingga badai siklon tropis Seroja, kita belajar bahwa ketika kita tidak siap, kerugian yang ditimbulkan sangat besar. 

Kehilangan nyawa, rusaknya rumah, putusnya jalan, terhentinya aktivitas belajar, hingga hancurnya ladang dan perahu nelayan menjadi luka kolektif yang menyakitkan. 

Kita tidak bisa terus-menerus menjadi korban dari kurangnya kesiapsiagaan. Tanggung jawab moral kita adalah memutus siklus kerentanan ini.

Pada akhirnya, BMKG bukan sekadar penyedia data, tetapi penjaga kehidupan. Tetapi penjaga kehidupan ini membutuhkan masyarakat yang mau mendengar. 

Sains memberi kita informasi, iman memberi kita nilai, dan keduanya harus bekerja bersama. 

Jika sinergi ini terwujud-antara data BMKG, respons cepat pemerintah, literasi masyarakat, dan nilai-nilai iman, maka NTT tidak hanya akan lebih siap menghadapi cuaca ekstrem, tetapi juga menjadi provinsi yang tangguh secara ekologis, sosial, dan spiritual. 

Kita memiliki dua pilihan: tetap pasif dan hanya bereaksi setelah bencana, atau membangun budaya siaga iklim yang tumbuh dari kesadaran moral, kedewasaan iman, dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. 

Pilihan kedua bukan hanya lebih bijaksana, tetapi juga lebih manusiawi. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved