Opini
Opini - Pupu Kaka Gerau Arin sebagai Spirit Orang Lewotala di Perantaun
Perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama ini bukan sekadar pertemuan rutin untuk melepas rindu, melainkan sebuah proklamasi keberadaan.
Oleh: Yogen Sogen
(Warga Lewotala Kabupaten Flores Timur berdomisili di Jakarta)
POS-KUPANG.COM - Minggu, 11 Januari 2026, di bawah langit Jakarta yang muram disergap rerintik hujan, sebuah api kecil dinyalakan di dalam Gedung Margasiswa 1, Menteng Jakarta Pusat.
Perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama ini bukan sekadar pertemuan rutin untuk melepas rindu, melainkan sebuah proklamasi keberadaan.
Lebih dari 150 jiwa orang Lewotala kini menghirup udara Jabodetabek—sebuah lonjakan drastis dibandingkan medio 2019 ke bawah, saat Jakarta masih menjadi rimba asing yang ditakuti, dan pilihan hidup seringkali hanya berujung pada belantara perkebunan sawit di Kalimantan atau nasib yang terombang-ambing di Malaysia.
Pergeseran Mental
Dahulu, Jakarta dianggap sebagai kota yang "ganas", tempat di mana orang bisa hilang ditelan gedung-gedung tinggi jika tidak memiliki koneksi. Ketakutan itu nyata.
Terbatasnya akses informasi dan minimnya pendahulu membuat anak-anak Lewotala enggan menapakkan kaki di kota ini; yang penuh muslihat keras dan ganas.
Namun, roda zaman berputar. Lima tahun terakhir telah menjadi saksi bagaimana pola pikir (mindset) itu dibongkar.
Anak-anak Lewotala kini sadar bahwa mereka bukan hanya lahir untuk menjadi pekerja kasar di pelosok perkebunan. Mereka memiliki kapasitas intelektual dan ketangguhan mental untuk bersaing di jantung kekuasaan negara.
Migrasi besar-besaran ke Jabodetabek belakangan ini adalah simbol keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Namun, menjadi petarung di perantauan terlebih Jakarta, memerlukan lebih dari sekadar ijazah atau keberanian fisik; ia memerlukan "restu" dan "ingatan" akan asal-usul di Lewotana.
Restu Kaka Bapa Lewotana
Jakarta dan sekitarnya memang keras. Kota-kota ini tidak pernah bertanya dari mana kita berasal, ia hanya peduli pada apa yang bisa kita berikan.
Bagi orang Lewotala, hidup di Jabodetabek adalah pertarungan harian—melawan kemacetan, persaingan kerja yang ketat, hingga rasa kesepian yang seringkali menyergap di kamar-kamar kos yang sempit.
Namun, di sinilah keajaiban itu terjadi. Sesuatu yang kita bawa dari kampung halaman, sebuah kekuatan metafisika yang kita sebut "Restu Kaka Bapa Lewotana", menjadi perisai yang tak kasat mata.
Seorang anak Lewotala yang berdiri di tengah kemacetan Jakarta tidak berdiri sendirian. Di pundaknya, ada harapan bapa, mama, dan para leluhur dari rahim Flores Timur. Semangat inilah yang membuat kita tetap tegak meski badai ekonomi atau kerasnya lingkungan kerja menghantam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Natal-Bersama-Warga-Lewotala-Flores-Timur-di-Jakarta.jpg)