Opini
Opini: Lampu, Timbangan dan Tangga - Metafora Transparansi dan Akuntabilitas
Transparansi berarti pemerintah berani membuka data, informasi, atau proses pengambilan keputusan.
Oleh: Jeffry Erensano
Mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Publik Undana Kupang - Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Bayangkan kita masuk ke sebuah ruangan gelap. Kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya: kursi, meja, atau mungkin lubang di lantai. Tanpa lampu, kita hanya bisa menebak-nebak dalam kegelapan.
Begitu lampu dinyalakan, semuanya terlihat jelas.Dalam pemerintahan, transparansi diibaratkan sebagai lampu yang membuat kita bisa melihat apa yang terjadi dalam ruang pemerintahan.
Tanpa transparansi, kita tidak akan memahami apa yang direncanakan, dikerjakan atau yang dihasilkan oleh pemerintah.
Transparansi berarti pemerintah berani membuka data, informasi, atau proses pengambilan keputusan.
Baca juga: Opini: Saatnya Kita Menyehatkan Keluarga
Bukan hanya laporan tahunan yang tebal dan penuh jargon, tapi informasi yang sederhana, relevan, dan bisa dipahami masyarakat, bukan hanya website atau sistem informasi dengan tampilan kosmetik, tapi data capaian dan laporan hasil yang menggambarkan kinerja pemerintah.
Transparansi sejati bukan hanya soal membuka data, melainkan soal membangun komunikasi yang jujur dan mudah dipahami.
Rakyat tidak membutuhkan ribuan halaman laporan audit yang teknis; mereka membutuhkan informasi yang relevan, ringkas, dan dapat ditindaklanjuti.
Sayangnya transparansi di Indonesia terasa seperti pertunjukan teater. Lampu panggung dinyalakan, tirai dibuka, aktor tampil dengan kostum indah.
Namun begitu kita menonton, ternyata tidak ada cerita, dan kemudian penonton pulang tanpa memahami apa yang ditonton.
Data ada, tapi tidak lengkap. Laporan ada, tapi sulit dipahami. Aplikasi ada, tapi tidak ditindaklanjuti.
Transparansi berubah jadi kosmetik politik, bukan alat akuntabilitas. Fenomena ini sering disebut transparency theater: pemerintah terlihat transparan, tapi keterbukaan itu tidak substantif.
Transparansi sekadar pertunjukan untuk menyenangkan penonton, bukan komitmen nyata untuk membangun kepercayaan.
Akuntabilitas: Timbangan di Pasar
Sekarang bayangkan kita sedang berbelanja cabai di pasar. Penjual bilang satu kilo cabai, tapi kita ingin memastikan timbangannya benar.
Akuntabilitas adalah timbangan itu: alat untuk memastikan janji sesuai kenyataan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Jeffry-Erensano.jpg)