Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Opini: Budaya Tebas Bakar di NTT

Dari perspektif ekologi tanah, dampak tebas bakar telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian ilmiah.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI KLUDOLFUS TUAMES
Kludolfus Tuames 

Keterkaitan ini tidak dapat dipahami sebagai hubungan sebab-akibat tunggal, melainkan sebagai hubungan struktural yang saling memengaruhi. 

Praktik tebas bakar berkontribusi terhadap degradasi tanah dan hilangnya mineral esensial. 

Degradasi tersebut menurunkan kualitas pangan lokal yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini membatasi kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan zat gizi penting, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak pada fase 1.000 hari pertama kehidupan. 

Kekurangan gizi kronis inilah yang kemudian meningkatkan risiko terjadinya stunting.

Dengan demikian, data stunting di NTT perlu dibaca tidak hanya sebagai indikator kesehatan masyarakat, tetapi juga sebagai cerminan kondisi ekologis dan sistem produksi pangan lokal. 

Upaya penurunan stunting yang hanya berfokus pada intervensi gizi di tingkat hilir berisiko tidak berkelanjutan jika tidak disertai dengan perbaikan sistem pengelolaan lahan dan produksi pangan di tingkat hulu.

Menghadapi persoalan ini, perubahan praktik tebas bakar tidak dapat dilakukan hanya melalui larangan atau imbauan moral. 

Praktik ini telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan seringkali berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap teknologi pertanian yang lebih ramah lingkungan. 

Oleh karena itu, peran negara menjadi sangat penting, tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan melalui penyediaan teknologi pengolahan lahan tanpa bakar, pendampingan petani, serta penguatan sistem pertanian berkelanjutan yang mampu menghasilkan pangan bergizi.

Pada akhirnya, budaya bukanlah sesuatu yang statis dan tidak dapat berubah. Budaya lahir dari konteks sejarah tertentu dan dapat dikoreksi ketika terbukti membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. 

Dalam konteks Provinsi Nusa Tenggara Timur, budaya tebas bakar bukan hanya persoalan tradisi, melainkan persoalan masa depan tanah, ketahanan pangan, dan kualitas generasi mendatang. 

Tanpa perubahan mendasar dalam cara mengelola lahan, upaya perbaikan gizi dan penurunan stunting akan terus menghadapi batas-batas struktural yang sulit ditembus. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
VS
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved