Opini
Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet
Krisis ekologi saat ini menjadi isu krusial yang bersifat global sebagai akibat dari anomali semangat pencerahan modern.
Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet
Oleh: Sixtus Junior Faon
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Krisis ekologi saat ini menjadi isu krusial yang bersifat global sebagai akibat dari anomali semangat pencerahan modern.
Semangat pencerahan modern yang menyuarakan emansipasi merealisasikan semangat pencerahan tersebut melalui teknologi yang mempermudah manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Teknologi buah modernisme tersebut tampak menyertakan anomali dalam penerapannya. Di satu sisi teknologi tampil sebagai instrumen yang mempermudah manusia untuk mencapai kesejahteraan atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya, di sisi lain teknologi tampil sebagai momok yang merugikan manusia itu sendiri dan alam.
Artileri perang, alat-alat berat untuk melakukan deforestasi, dan Artificial Intelligence (AI), merupakan contoh konkret dari anomali tersebut.
Mengingat anomali tersebut filsuf Jerman Gunther Anders, mengatakan bahwa masyarakat modern telah sampai pada tahap “kebutaan apokaliptik,” dalam hal ini tidak mempu mengenal aspek destruktif dari pengunaan teknologi secara berlebihan (Robet, 2025).
Dengan demikian upaya emansipasi yang diusung melalui semangat pencerahan benar menghasilkan emansipasi, namun emansipasi tersebut hanya sebatas pada sesama manusia.
Bahkan istilah emansipasi itu sangat antroposentris, hal tersebut dapat dibuktikan dari asal kata tersebut dalam bahasa Latin emancipare yang berarti melepaskan istri dan anak (laki-laki) dari hukum patria potestas atau kekuasaan mutlak ayah atas hidup dan mati mereka (Robet, 2025). Konsep emansipasi yang antroposentris tersebut mendorong lahirnya konsep ekosipasi oleh Prof. Robertus Robet.
Bertolak dari fakta deforestasi besar-besaran di beberapa wilayah di Indonesia, dan melalui pembacaanya terhadap pemikiran filsuf kontemporer Prancis Bruno Latour, yang mengemukakan konsep Hybrid (gabungan atau keterjalinan), Robet mengusung satu konsep penting, yakni ekosipasi.
Konsep ekosipasi merupakan kritik terhadap pola pikir modernisme yang mebuat batas antara subjek dan objek, antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, dengan demikian subjek memiliki peran untuk mendominasi alam.
Pola pikir modernisme tersebut merupakan pintu masuk ke dalam praktik deforestasi yang dilakukan oleh manusia dengan memandang alam hanya sebagai objek untuk memenuhi kebutuhannya semata.
Maka dari itu melalalui konsep ekosipasi yang dibasiskan pada pemikiran Latour tentang jaringan relasi manusia dan non-manusia secara setara, Robet menekankan bahwa manusia dan non-manusia dalam konteks negara Indonesia harus dilihat sebagai sesama warga negara.
Dengan demikian, bagi Robet, masyarakat indonesia bukan hanya terdiri dari warga negara yang adalah manusia, melainkan juga yang non-manusia dalam hal ini alam.
Konsep ekosipasi merupakan satu langkah etis untuk mengupayakan pentingnya keterjalinan antara manusia dan alam. Manusia tidak menjadi “Tuan” atas alam, melainkan bagian dari jaringan relasi yang setara dengan alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sixtus-Junior-Faon-01okok.jpg)