Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Opini: Budaya Tebas Bakar di NTT

Dari perspektif ekologi tanah, dampak tebas bakar telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian ilmiah.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI KLUDOLFUS TUAMES
Kludolfus Tuames 

Bahkan, dalam jangka waktu singkat, kandungan mineral tanah dapat turun hingga berada di bawah kondisi sebelum pembakaran dilakukan.

Pembakaran juga berdampak pada unsur mikro yang sangat penting bagi  kesehatan manusia, seperti zat besi (Fe) dan seng (Zn). 

Ketersediaan unsur mikro ini sangat bergantung pada keberadaan bahan organik dan mikroorganisme tanah. 

Kajian klasik Lutz dan Chandler (1965) menjelaskan bahwa hilangnya bahan organik akibat api menyebabkan terputusnya siklus hara alami tanah. 

Tanpa mikroorganisme tanah, unsur mikro seperti zat besi dan seng cenderung terfiksasi atau berada dalam bentuk yang tidak dapat diserap oleh tanaman. 

Akibatnya, tanaman pangan yang tumbuh di lahan bekas bakar cenderung miskin mineral mikro, meskipun secara visual tampak tumbuh normal.

Penelitian lokal di NTT juga memperkuat temuan tersebut. Beja, Mella, dan Soetedjo (2015) dalam kajiannya mengenai sistem perladangan berpindah di Nusa Tenggara Timur menemukan bahwa praktik tebas bakar yang dilakukan berulang dengan masa bera yang semakin pendek tidak mampu memulihkan unsur hara tanah. 

Tanah mengalami degradasi progresif, sementara hasil pertanian dipertahankan melalui eksploitasi jangka pendek yang mengorbankan kualitas lahan dan pangan dalam jangka panjang.

Hilangnya nitrogen, karbon, sulfur, kalium, kalsium, magnesium, zat besi, dan seng dari sistem tanah memiliki implikasi langsung terhadap kualitas pangan lokal. 

Tanaman pangan utama masyarakat NTT, seperti jagung dan umbi-umbian, masih dapat tumbuh dan dipanen. 

Namun, pangan tersebut lebih berfungsi sebagai sumber energi, bukan sebagai sumber gizi yang memadai. 

Kondisi ini memunculkan fenomena hidden hunger, yaitu situasi di mana masyarakat merasa kenyang secara kalori, tetapi kekurangan zat gizi makro dan mikro yang esensial bagi pertumbuhan dan kesehatan.

Fenomena tersebut berkaitan erat dengan kondisi stunting di NTT. Berdasarkan hasil terbaru Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Provinsi NTT berada pada kisaran 37 persen, tertinggi secara nasional meskipun menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Secara spasial, data menunjukkan bahwa kabupaten-kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi cenderung merupakan wilayah yang masyarakatnya masih sangat akrab dengan sistem pertanian lahan kering berbasis tebas bakar. 

Kabupaten seperti Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Kabupaten Kupang, Manggarai Timur, Alor, serta beberapa kabupaten di Pulau Sumba secara konsisten mencatat angka stunting di atas 40 persen.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
VS
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved