Opini
Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia
Pesan Vatikan dan dunia Buddha sesungguhnya merupakan undangan untuk membangun solidaritas yang lebih luas.
Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia
Oleh: Paulino Ricardo R. Da Costa Soares
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Pada akhir Mei 2026 lalu, umat Buddha di berbagai belahan dunia merayakan Hari Raya Waisak 2570 BE. Bagi kebanyakan orang, Waisak mungkin dipahami sebagai perayaan religius yang mengenang kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha.
Namun tahun ini, perayaan tersebut menghadirkan gema yang melampaui batas-batas ritual keagamaan. Bersamaan dengan momentum Waisak, Dikasteri untuk Dialog Interreligius Vatikan menerbitkan pesan resmi yang ditujukan kepada umat Buddha di seluruh dunia. Pesan tersebut yakni tentang perdamaian tanpa senjata serta pentingnya perlucutan senjata demi masa depan umat manusia.
Peristiwa ini menarik untuk direnungkan. Sebab di tengah dunia yang semakin maju secara teknologi, manusia justru masih hidup di bawah bayang-bayang kekerasan, peperangan, dan perlombaan persenjataan.
Hal baiknya manusia mampu mengembangkan kecerdasan buatan, menjelajahi ruang angkasa, dan menciptakan teknologi yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Namun di sisi lain, manusia juga terus menyempurnakan alat-alat penghancur yang mampu menghilangkan ribuan nyawa hanya dalam hitungan menit. Nyatanya bahwa kemajuan ilmu pengetahuan ternyata tidak selalu menjamin seseorang juga mempunyai kematangan moral.
Situasi tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan mendasar. Mengapa perdamaian masih menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan? Mengapa manusia yang sama-sama mendambakan kehidupan yang aman justru sering terjebak dalam lingkaran kekerasan? Apakah persoalannya terletak pada sistem politik dunia, atau justru berakar lebih dalam pada cara manusia memahami dirinya sendiri dan sesamanya?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada inti pesan yang disampaikan bersama oleh Vatikan dan dunia Buddha. Seruan mereka tidak pertama-tama berbicara tentang strategi politik atau diplomasi internasional.
Seruan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa perdamaian sejati selalu memiliki dimensi batiniah. Sebelum senjata dilucuti dari tangan manusia, terlebih dahulu harus ada keberanian untuk melucuti berbagai bentuk kekerasan yang bersemayam dalam hati manusia.
Dalam tradisi Buddhis, dikenal ajaran mengenai upaya membebaskan diri dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Ketiga hal tersebut dipandang sebagai akar penderitaan manusia.
Keserakahan membuat manusia terus mengejar kepentingannya sendiri tanpa mempertimbangkan kehidupan orang lain. Kebencian melahirkan permusuhan yang merusak relasi sosial.
Sementara kebodohan batin membuat manusia gagal melihat keterhubungan dirinya dengan seluruh kehidupan. Tradisi Katolik juga memiliki pandangan yang sejalan.
Dalam spiritualitas Kristiani, perdamaian lahir dari pertobatan hati, dari kemampuan manusia untuk keluar dari egoisme dan membuka diri terhadap kasih. Injil berulang kali mengajarkan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama.
Menjadi menarik di sini, bahwa kedua tradisi keagamaan besar ini bertemu pada satu titik yang sama, yakni keyakinan bahwa perubahan dunia selalu dimulai dari perubahan manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Paulino-Ricardo-R-Da-Costa-Soares.jpg)