Opini
Opini: Budaya Tebas Bakar di NTT
Dari perspektif ekologi tanah, dampak tebas bakar telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian ilmiah.
Masalah muncul ketika praktik yang lahir dari situasi darurat tersebut terus dipertahankan tanpa penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang semakin rentan.
Ketika suatu praktik dilakukan secara berulang dan kolektif, ia memperoleh legitimasi budaya dan tidak lagi dipertanyakan.
Akibatnya, tebas bakar terus dijalankan meskipun dampak negatifnya terhadap kesuburan tanah dan keberlanjutan produksi pangan semakin nyata.
Dari perspektif ekologi tanah, dampak tebas bakar telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian ilmiah.
Pembakaran lahan memusnahkan bahan organik tanah, termasuk lapisan humus yang berfungsi sebagai penyimpan unsur hara dan penopang kehidupan mikroorganisme.
Penelitian Giardina, Sanford, dan Dockersmith (2000) menunjukkan bahwa proses pembakaran menyebabkan hilangnya nitrogen tanah dalam jumlah besar melalui volatilisasi.
Nitrogen merupakan unsur utama pembentuk protein tanaman. Ketika nitrogen hilang dari sistem tanah, tanaman pangan yang tumbuh di atasnya tidak mampu menghasilkan kandungan protein yang optimal.
Selain nitrogen, unsur sulfur (S) dan karbon (C) juga banyak hilang akibat pembakaran.
Hilangnya karbon organik memiliki dampak yang sangat krusial karena bahan organik berperan sebagai “gudang” unsur hara dan penopang struktur tanah.
Tanah yang miskin karbon menjadi rapuh, mudah tererosi, dan tidak mampu menyimpan mineral dalam jangka panjang.
Hal ini sejalan dengan temuan Wasis (2003; 2019) yang menunjukkan bahwa kebakaran lahan secara konsisten menurunkan kandungan karbon organik, nitrogen, dan sulfur tanah, sehingga kapasitas tukar kation dan kemampuan tanah menahan unsur hara menurun secara struktural.
Unsur-unsur basa seperti kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg) memang meningkat sementara dalam bentuk abu hasil pembakaran.
Kondisi ini seringkali menimbulkan persepsi bahwa tanah menjadi lebih subur setelah dibakar.
Namun, penelitian Juo dan Manu (1996) membuktikan bahwa peningkatan tersebut bersifat sementara.
Tanpa penutup tanah dan bahan organik, mineral-mineral tersebut sangat mudah tercuci oleh hujan (leaching) dan hilang dari zona perakaran hanya dalam satu musim tanam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kludolfus-Tuames.jpg)