Selasa, 16 Juni 2026

Opini

Opini: Natal di Tengah Krisis Keteladanan

Inkarnasi bukan hanya peristiwa keselamatan, tetapi juga pernyataan etis tentang cara Allah berelasi dengan dunia. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Heryon Bernard Mbuik, S.Pak., M.Pd 

Kepemimpinan menjadi fungsional, tetapi tidak transformatif; efektif, tetapi tidak etis.  

Inkarnasi sebagai Kritik terhadap Model Kepemimpinan Dominatif 

 Yohanes 1:14 menegaskan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” Inkarnasi menyingkapkan cara Allah memimpin: bukan melalui dominasi, melainkan melalui kehadiran dan kerendahan. 

Dietrich Bonhoeffer, dalam refleksi Natalnya (God Is in the Manger), menekankan bahwa Allah memilih jalan kelemahan untuk menyatakan kuasa sejati. 

Bagi Bonhoeffer, palungan merupakan simbol teologis yang mengkritik segala bentuk kekuasaan yang mengandalkan paksaan dan ketakutan. 

Allah hadir bukan untuk menguasai dunia, tetapi untuk menyelamatkannya melalui kasih yang rela berkorban. 

Dalam perspektif ini, inkarnasi menjadi dasar teologis bagi kepemimpinan Kristen yang non-dominatif. 

Kepemimpinan yang berakar pada Natal tidak mencari legitimasi melalui posisi atau popularitas, melainkan melalui kesetiaan pada kebenaran dan keberpihakan pada yang lemah. 

Natal, Gereja, dan Krisis Keteladanan Kontemporer 

Krisis keteladanan yang terjadi hari ini tidak dapat dilepaskan dari melemahnya kesaksian gereja sebagai komunitas etis. 

Gereja berisiko terjebak dalam aktivisme religius tanpa kedalaman spiritual, atau dalam retorika moral tanpa praksis keteladanan. 

N. T. Wright menegaskan bahwa inkarnasi merupakan inti dari misi Allah untuk memperbarui ciptaan (The Day the Revolution Began). 

Keselamatan dalam Kristus tidak hanya bersifat individual, tetapi kosmik dan sosial. 

Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui kehidupan yang berbeda termasuk dalam cara memimpin. 

Natal, dalam pengertian ini, memanggil gereja untuk melakukan pertobatan institusional: kembali kepada pola kepemimpinan Kristus yang melayani, hadir, dan setia pada kebenaran, bahkan ketika itu tidak menguntungkan secara sosial atau struktural. 

Natal dan Harapan Etis di Tengah Dunia yang Retak 

 Jürgen Moltmann, melalui Theology of Hope, menekankan bahwa iman Kristen selalu berorientasi pada masa depan Allah. 

Harapan eskatologis tidak melarikan orang percaya dari dunia, tetapi justru mendorong keterlibatan etis yang lebih mendalam. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
Live
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved