Opini
Opini: Natal di Tengah Krisis Keteladanan
Inkarnasi bukan hanya peristiwa keselamatan, tetapi juga pernyataan etis tentang cara Allah berelasi dengan dunia.
Inkarnasi Kristus dan Panggilan Kepemimpinan Etis di Era Kontemporer
Oleh: Heryon Bernard Mbuik
Dosen PGSD FKIP Universitas Citra Bangsa Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Natal sebagai peristiwa inkarnasi bukan hanya fondasi iman Kristiani, tetapi juga sumber etika dan model kepemimpinan yang relevan bagi dunia kontemporer.
Natal 2025 dipahami sebagai panggilan profetis bagi gereja untuk menghadirkan kepemimpinan yang berakar pada kerendahan hati, kehadiran, dan tanggung jawab etis.
Pendahuluan Perayaan Natal sering kali direduksi menjadi ritual tahunan yang sarat simbol dan nostalgia religius.
Namun dalam perspektif teologis, Natal adalah peristiwa radikal: Allah yang transenden memilih untuk hadir secara imanen dalam sejarah manusia.
Baca juga: Opini: Natal, Hari Ibu dan Tahun Yubileum 2025
Inkarnasi bukan hanya peristiwa keselamatan, tetapi juga pernyataan etis tentang cara Allah berelasi dengan dunia.
Dalam konteks kontemporer, khususnya Natal 2025, dunia menghadapi krisis keteladanan yang serius.
Kepemimpinan di berbagai sektor politik, pendidikan, dan bahkan gereja ditandai oleh erosi integritas, pragmatisme moral, dan kehilangan orientasi transenden.
Tulisan ini berangkat dari tesis bahwa krisis keteladanan merupakan krisis teologis, dan bahwa refleksi Natal menyediakan kerangka normatif untuk memulihkan kepemimpinan Kristen yang berakar pada terang Kristus.
Natal dan Teologi Terang: Kristus sebagai Orientasi Moral
Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh. 1:9).
Terang dalam tradisi biblika tidak hanya bersifat metaforis, tetapi mengandung makna etis dan eksistensial: terang menyingkapkan kebenaran, membimbing arah, dan menyingkirkan kegelapan moral.
Dengan demikian, Natal bukan sekadar pengumuman tentang kelahiran Mesias, tetapi deklarasi bahwa Allah sendiri menjadi standar kebenaran.
Ketika terang Kristus ditolak atau direduksi, manusia kehilangan orientasi moral dan mudah menggantinya dengan kepentingan, kuasa, atau relativisme etis.
Krisis keteladanan dalam kepemimpinan modern dapat dipahami sebagai konsekuensi dari terlepasnya kepemimpinan dari sumber terang tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dosen-Universitas-Citra-Bangsa-UCB-Heryon-Bernard-Mbuik-SPak-MPd.jpg)