Opini

Opini: Antara Diskon, Promosi dan Ilusi Hemat

Gejala ini muncul menjelang hari raya, liburan sekolah atau seringkali diperhadapkan isu kenaikan gaji dan lain sebagainya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI EMILIANA MARTUTI LAWALU
Emiliana Martuti Lawalu. 

Menjelang Nataru, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur. Misalnya, pakaian baru yang sebenarnya bukan kebutuhan mendesak dapat terasa wajib karena tradisi dan tekanan sosial. 

Hadiah yang awalnya direncanakan sederhana bisa berubah menjadi barang mahal karena dorongan emosional untuk memberikan yang terbaik. Kondisi ini menuntut perilaku konsumen untuk memainkan peran penting. 

Secara psikologis, suasana perayaan mendorong munculnya euforia, optimisme, dan rasa takut kehilangan kesempatan yang membuat konsumen dapat mengabaikan batasan anggaran dan mengorbankan kebutuhan yang lebih mendesak.

Konsumen diharapkan mengedepankan rasionalitas dalam menentukan pilihan. Keputusan yang diambil memberikan manfaat maksimal dengan biaya marginal. 

Namun pada praktiknya, rasionalistas konsumen Seringkali dipengaruhi oleh informasi yang tidak lengkap, emosi, dan godaan dari iklan serta pemasaran. 

Penting untuk mengedepankan skala prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan manfaat jangka panjang. Agar tetap rasional menjelang Nataru, konsumen perlu menerapkan beberapa prinsip: 

Pertama, berbelanja berdasarkan rencana. Perayaan tidak harus berarti membeli segala sesuatu yang diinginkan. 

Jangan terjebak pada diskon yang terlihat menarik tetapi sebenarnya tidak diperlukan. 

Kedua, berhati-hati terhadap Paylater dan kredit konsumtif. Banyak konsumen tergoda untuk menggunakan paylater karena kemudahan dan tampilan yang kecil pada aplikasi. 

Namun, pembayaran yang tertunda seperti ini dapat membebani keuangan di awal tahun. 

Ketiga, gunakan diskon dengan bijak. Diskon bukanlah alasan untuk membeli lebih banyak. 

Kesadaran bahwa sebagian diskon hanyalah strategi pemasaran membuat konsumen harus lebih teliti dalam membandingkan harga. 

Konsumen yang mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan akan lebih mampu menjaga daya beli di tengah kenaikan harga barang dan jasa. 

Mereka tidak mudah terjebak pada promosi yang menyesatkan dan tetap memelihara kestabilan keuangan rumah tangga. 

Hal ini menjadi penting karena kondisi ekonomi seringkali tidak memberikan kepastian bagi setiap keluarga. 

Ketimpangan Daya Beli dan Kerentanan Ekonomi Rumah tangga

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved